Topologi tanah yang saat ini berubah drastis dijelaskannya lahan pertanian yang terdampak sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi karena sudah rusak total.

“Kalau ini sudah jelas tidak bisa, lahan pertanian sudah rusak total sehingga ini perlu penanganan yang cukup serius. Karena bentuk sawah sudah tidak seperti sawah lagi dan kolam tidak berbentuk kolam lagi, otomatis hal ini perlu diselesaikan dengan pihak ke tiga nantinya,” jelasnya.

Menakar kerugian

Rohmanto (60) yang sejak 20 Tahun lalu sudah bergantung hidup jadi petani ikan mengungkapkan dari dua hektar lebih luas kolam, ada yang terisi 50.000 ribu bibit ikan berumur 25 hari belum sempat dipanen.

Atas peristiwa itu ikannya ada yang mati dan hilang.

Kerugian yang dideritanya tidak hanya bibit ikan, namun juga biaya pemeliharaan dan lahan. Sebelumnya, seminggu sekali pria tua itu panen bibit ikan yang sudah diselektif untuk dijual.

“Kalaunya satu minggu itu 10.000 kali 350 rupiah ada Rp 3,5 juta itu kalau panen saban minggu,” ujarnya pasrah.

Wilayah itu merupakan lahan pertanian milik kelompok tani Sumber Berkat. Sabtu, (17/7) lalu  Koramil 1010-03 / Tapin Selatan mencatat sementara total pemilik lahan yang terdampak atas nama ; Rohmanto, Misiran, Mulyadi, Karjo, Sarsikem, Usman, Sarno dan Wasno.

Kepala Desa Sawang M Hairullah pernah mengatakan pihak perusahan mengaku siap bertanggung jawab atas kejadian di wilayah itu.

"Pihak perusahan meminta kita untuk melakukan pendataan lahan pertanian yang terdampak. Ada sawah, kolam ikan dan kebun karet," ujarnya. (ant)

Editor: Erna Djedi