WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN-Tingginya minat masyarakat terhadap sayuran hidroponik tak sebanding dengan setok yang ada.
Hal ini membuat penyedia sayuran hidroponik untuk kota Banjarmasin, Banjarbaru, serta kota Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan (Kalsel) kewalahan memenuhi kebutuhan konsumen tersebut.
Ketua Asosiasi Petani Hidroponik Organik Tanaman Pangan dan Hortikultura (Aphothik) Kalsel, Wahdiah SP MS mengemukakan itu di Banjarbaru, Kalimantan Selatan melalui WA-nya, Jumat (22/1/2021).
“Kebutuhan konsumen terhadap sayuran hidroponik seperti jenis tanaman Salada per hari sekitar 50 kg, sedangkan suplai baru berkisar antara 20 – 30 kg,” ujarnya menjawab Antara Kalsel seperti dikutip oleh Warta Banjar.
Dia memperkirakan, tidak terpenuhinya persediaan sayuran hidroponik sesuai kebutuhan atau permintaan mungkin karena musim penghujan dan bencana banjir.
Wakil Ketua Aphothik Kalsel, Hero Wongso Negara SH yang juga selaku petani hidroponik menerangkan, pada musim penghujan tanaman selada rentan terserang jamur jika tidak menggunakan teknologi tinggi.
“Seperti tanaman selada saya sekitar 30 persen terserang jamur sehingga tidak layak jual atau konsumsi,” ujar alumnus Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta itu.
“Begitu pula teman saya di Banjarbaru mempunyai lobang/tanaman hidroponik jenis selada semua kena serangan jamur. Kalau disemprot dengan pembasmi jamur berarti tanaman tersebut tidak organik lagi,” lanjutnya.
Sementara, tambahnya, orang-orang sekarang banyak yang ingin kembali pada alami, lebih memilih pangan seperti sayuran dan buah-buahan yang bersifat organik bebas dari pestisida ataupun insektisida guna tetap terjaga kesehatan. (brs/ant)






