Paman Birin Pimpin Peringatan 159 Tahun Wafatnya Pangeran Antasari


WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN – 11 Oktober merupakan tanggal wafatnya Pahlawan Nasional asal Kalimantan Selatan, Pangeran Antasari.

Memperingati wafatnya Pangeran Antasari, Senin (11/10/2021), digelar upacara di areal pemakaman Pangeran Antasari di Kompleks Pekuburan Muslimin Surgi Mufti, Banjarmasin Utara.

Upacara dipimpin Gubernur Kalsel, H Sahbirin Noor, yang mengenakan pakaian adat khas Banjar.

Peringatan ini diawali dengan peletakkan karangan bunga di makam Pangeran Antasari oleh Gubernur.

Tahun ini adalah peringatan ke-159 wafatnya Pangeran Antasari.

Gubernur Sahbirin Noor didampingi Wakil Gubernur H Muhidin ziarah dan tabur bunga di makam Pangeran Antasari. (Ist-Humas)

Turut hadir pimpinan DPRD Kalsel, Wakil Gubernur H Muhidin, dan jajaran Forkopimda Kalsel.

Pangeran Antasari lahir di Kayu Tangi, Kesultanan Banjar, 1797 atau 1809, dan meninggal di Bayan Begok, Hindia Belanda, 11 Oktober 1862 pada umur 53 tahun.

Ia adalah Sultan Banjar. Pada 14 Maret 1862, dinobatkan sebagai pimpinan pemerintahan tertinggi di Kesultanan Banjar (Sultan Banjar) dengan menyandang gelar Panembahan Amiruddin Khalifatul Mukminin dihadapan para kepala suku Dayak dan adipati (gubernur) penguasa wilayah Dusun Atas, Kapuas dan Kahayan yaitu Tumenggung Surapati/Tumenggung Yang Pati Jaya Raja.

Pangeran Antasari merupakan cucu Pangeran Amir. Semasa muda nama Pangeran Antasari adalah Gusti Inu Kartapati.

Ibunda Pangeran Antasari adalah Gusti Hadijah binti Sultan Sulaiman. Ayah Pangeran Antasari adalah Pangeran Masohut (Mas’ud) bin Pangeran Amir.

Pangeran Amir adalah anak Sultan Muhammad Aliuddin Aminullah yang gagal naik tahta pada tahun 1785. Ia diusir oleh walinya sendiri, Pangeran Nata, yang dengan dukungan Belanda memaklumkan dirinya sebagai Sultan Tahmidullah II.

Pangeran Antasari memiliki 3 putera dan 8 puteri. Pangeran Antasari mempunyai adik perempuan yang lebih dikenal dengan nama Ratu Sultan Abdul Rahman karena menikah dengan Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam tetapi meninggal lebih dulu setelah melahirkan calon pewaris kesultanan Banjar yang diberi nama Rakhmatillah, yang juga meninggal semasa masih bayi.

Dia cucu Pangeran Amir yang gagal naik tahta pada tahun 1785. Pangeran Antasari tidak hanya dianggap sebagai pemimpin Suku Banjar, dia juga merupakan pemimpin Suku Ngaju, Maanyan, Siang, Sihong, Kutai, Pasir, Murung, Bakumpai dan beberapa suku lainya yang berdiam di kawasan dan pedalaman atau sepanjang Sungai Barito, baik yang beragama Islam maupun Kaharingan.