WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Operasional dapur umum Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Kalimantan Selatan untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), resmi berakhir pada Sabtu (07/11/2026).

Meski pelayanan dapur umum dan aktivitas posko lapangan dihentikan, personel yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Karhutla tetap disiagakan. 

Patroli, pemantauan wilayah, hingga pembasahan di lokasi yang masih ditemukan titik asap, tetap dilanjutkan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Seksi Perlindungan Sosial Korban Bencana Sosial (PSKBS) Dinas Sosial Provinsi Kalimantan Selatan, Yoefi Fahromi, saat diwawancarai di Posko Lapangan 1, kawasan Guntung Damar, Kota Banjarbaru, Sabtu (07/11/2026).

Yoefi menjelaskan, berakhirnya operasional dapur umum tersebut merupakan tindak lanjut hasil rapat koordinasi bersama jajaran terkait, termasuk BPBD dan unsur Satgas Gabungan, mengenai kelanjutan penanganan karhutla.

Berdasarkan hasil koordinasi tersebut, seluruh personel Dinsos yang bertugas di posko ditarik pada 7 November 2026. 

Mulai Minggu (08/11/2026), mereka kembali menjalankan tugas di instansi atau kesatuan masing-masing.

"Patroli tetap jalan. Kalau memang ada titik asap, tetap dilakukan pembasahan" jelasnya.

Baca Juga: Tiga Kandidat Berebut Kursi Ketua di Muscab IV SKYNAV Indonesia Cabang Banjarmasin

Baca Juga: Jumat Keliling, Polres Banjarbaru Perkuat Silaturahmi dan Jaga Kamtibmas

Ia menegaskan, berakhirnya posko bukan berarti seluruh kegiatan penanggulangan karhutla dihentikan. 

Personel yang selama ini terlibat dalam penanganan di kawasan ring 1, tetap menjalankan tugas pemantauan dan patroli sesuai tanggung jawab masing-masing.

Hanya saja, tidak ada lagi posko gabungan sebagai pusat berkumpulnya personel lintas instansi. 

Seluruh unsur Satgas kembali ke satuan masing-masing, termasuk personel Dinsos yang melanjutkan kesiapsiagaan dari kantor dinas.

Selain personel, kesiapan sarana dan prasarana penanggulangan juga tetap menjadi perhatian. 

Instansi yang memiliki armada tangki air maupun tangki portabel, diminta memastikan peralatan tersebut dalam kondisi siap digunakan sewaktu-waktu.

"Armada tangki tetap standby, termasuk tangki portabel. Jadi, statusnya tetap siaga di kesatuan masing-masing," ungkap Yoefi.