Abdi Rahman dan Shouma Hunafa Dinobatkan Sebagai Nanang Galuh Kalsel 2026, ini Pesan Gubernur
“Melalui pemilihan Nanang dan Galuh ini, nantinya mereka diharapkan dapat mengangkat budaya-budaya lokal. Masih banyak anak-anak kita yang belum mengetahui budaya sendiri. Dengan kegiatan positif yang diinisiasi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kalsel, kita ingin kearifan-kearifan lokal ini dimunculkan kembali,” ujar Syarifuddin.
Ia menegaskan, peran Nanang dan Galuh perlu diwujudkan melalui kegiatan yang berkelanjutan, bukan hanya selama masa pemilihan atau ketika menghadiri kegiatan seremonial.
Para duta budaya diharapkan terlibat dalam berbagai aktivitas kebudayaan di kabupaten/kota masing-masing, dengan penugasan dan ukuran kinerja yang jelas.
“Pemerintah provinsi mendukung langkah Disdikbud menempatkan Nanang dan Galuh sebagai mitra kerja, lengkap dengan penugasan dan ukuran kinerja di kabupaten dan kota masing-masing,” tambahnya.
Selain aktif memperkenalkan kebudayaan daerah, Nanang dan Galuh juga diharapkan terus memperdalam pengetahuan tentang tradisi, kesenian, sejarah, dan nilai-nilai lokal Kalimantan Selatan. Penguasaan bahasa Banjar menjadi salah satu kemampuan penting agar mereka dapat menyampaikan pesan budaya secara tepat dan dekat dengan masyarakat.
Mereka juga diingatkan untuk menjaga etika, tutur kata, dan empati dalam berinteraksi, terutama di ruang digital dan media sosial. Dengan karakter dan kemampuan komunikasi yang baik, Nanang dan Galuh diharapkan mampu memanfaatkan platform digital untuk menyebarluaskan informasi kebudayaan sekaligus memperkenalkan identitas Banua kepada khalayak yang lebih luas.
Kepala Disdikbud Kalsel Abdul Rahim menjelaskan, Pemilihan Nanang dan Galuh Kalsel 2026 berlangsung pada 20–25 Oktober 2026 dan diikuti 40 peserta dari 12 kabupaten/kota se-Kalimantan Selatan.
Mengusung tema “Kenali Budayanya, Hidupkan Ceritanya, Ciptakan Masa Depannya”, kegiatan ini dirancang untuk membentuk generasi muda yang berkarakter, berwawasan budaya, komunikatif, kreatif, dan siap berkontribusi dalam pemajuan kebudayaan daerah.
Selama rangkaian kegiatan, para peserta mengikuti pembekalan, eksplorasi budaya, pengembangan kapasitas, serta berbagai tahapan penilaian. Materi yang diberikan mencakup pengenalan filosofi budaya, transformasi budaya digital, komunikasi budaya, wawasan pemerintahan, kewirausahaan berbasis budaya, dan aksi nyata peserta.