Juara Umum Festival Tari Kalsel, Sanggar Suluh Banua Tabalong Bersiap ke Jakarta
WARTABANJAR.COM, TANJUNG – Sanggar Seni Suluh Banua Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, mematangkan persiapan untuk mengikuti Parade Tari Nusantara di Jakarta, pada akhir Oktober 2026.
Sanggar tersebut akan mewakili Kalimantan Selatan di ajang nasional, setelah meraih juara umum Festival Karya Tari Daerah (FKTD) Kalimantan Selatan.
Menjelang kompetisi, para penari bersama tim pelatih terus melakukan evaluasi dan penyempurnaan pertunjukan.
Persiapan meliputi olah tubuh, olah rasa, hingga penyesuaian gerakan dengan iringan musik tradisional Dayak.
Latihan dipusatkan di Aula Pendopo Bersinar, Pembataan, untuk menghindari gangguan kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pimpinan Sanggar Seni Suluh Banua, Dedy Rahnoni, mengatakan persiapan menuju tingkat nasional langsung mereka lakukan setelah sanggar tersebut dinyatakan sebagai pemenang FKTD Kalimantan Selatan.
Dituturkan Dedy, timnya melakukan sejumlah perbaikan berdasarkan masukan dewan juri saat festival sebelumnya.
“Sejak Kabupaten Tabalong ditetapkan sebagai pemenang, kami terus berbenah untuk menghadapi Parade Tari Nusantara di Jakarta. Setelah tiga hari pengumuman, kami langsung menyusun program perbaikan sesuai saran dewan juri. Ada beberapa hal yang perlu diperbaiki sehingga kami menyusun kembali program latihan,” tutur Dedy, Minggu (18/10/2026).
Baca Juga: 18 Penyuluh Pertanian Tabalong Terima Motor Operasional Bantuan Tiga Perusahaan
Baca Juga: PLN Bantu Mesin Penggiling Padi Listrik untuk 183 Petani di Tabalong, Biaya Diklaim Lebih Hemat
Ia berharap, evaluasi tersebut dapat membuat penampilan para penari lebih matang dan maksimal saat tampil di panggung nasional.
Sementara itu, Ketua Harian Sanggar Seni Suluh Banua, Muhammad Izmi, menjelaskan timnya tetap mengusung tema Njipah dalam Parade Tari Nusantara. Tema tersebut sebelumnya juga ditampilkan pada FKTD Kalimantan Selatan.
Njipah merupakan istilah untuk perangkap babi, yang dibuat menggunakan akar-akar gantung yang ditemukan di hutan, khususnya di kawasan hutan masyarakat Dayak Deah.
Perangkap tradisional tersebut menjadi inspirasi dalam penggarapan tari yang dibawakan Sanggar Seni Suluh Banua.