WARTABANJAR.COM, TANJUNG – Petani di Desa Bilas, Kecamatan Upau, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, menyambut baik bantuan mesin penggiling padi berbasis listrik dari PT PLN (Persero). 

Teknologi ini dinilai memudahkan pengolahan hasil panen, sekaligus mengatasi kendala ketersediaan bahan bakar minyak (BBM).

Bantuan tersebut merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN, melalui pemanfaatan energi listrik di sektor pertanian.

Program ini memberikan manfaat bagi 183 petani di Desa Bilas. Sebanyak tujuh kelompok tani menerima bantuan mesin penggiling padi berbasis listrik, disertai pelatihan operasional untuk mendukung pengolahan hasil panen yang lebih modern dan efisien.

Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Pantai Membangun, Abdul Hadi, mengatakan penggunaan mesin penggiling padi berbasis listrik memberikan kemudahan bagi petani, terutama ketika pasokan BBM sulit diperoleh.

Dikatakannya, selama ini mesin penggiling padi yang menggunakan bahan bakar minyak kerap terkendala ketersediaan BBM. 

Baca Juga: Wisata Padang Ilalang di Tabalong Mulai Sepi, Bunga Rontok dan Asap Karhutla Jadi Penyebab

Baca Juga: BPR Tabalong Bersinar Siapkan Kredit Tanpa Bunga bagi Penjahit Seragam Sekolah Gratis

Dengan memanfaatkan energi listrik, petani diharapkan dapat mengoperasikan mesin secara lebih mudah.

“Karena memudahkan pertama masalah BBM, BBM kan kadang-kadang bisa sulit juga mendapatkan BBM minyaknya, kalau listrik ini mudah,” ujar Abdul Hadi, Minggu (18/10/2026).

Manfaat penggunaan mesin penggiling padi berbasis listrik juga dirasakan Kelompok Tani Sinar Harapan Desa Bilas.

Sekretaris Kelompok Tani Sinar Harapan, Padlan, berharap pemanfaatan energi listrik dapat menekan biaya operasional penggilingan padi. Dengan begitu, beban pengeluaran petani bisa lebih ringan.

“Mudah-mudahan lebih hemat, lebih ringan,” ucap Padlan.

Berdasarkan analisis sementara, penggilingan padi berbasis listrik dinilai memiliki biaya operasional lebih rendah dibandingkan mesin yang menggunakan bahan bakar minyak.

Penghematan biaya operasional bahkan diperkirakan dapat mencapai 90 persen. Namun, besaran penghematan tersebut masih perlu dilihat berdasarkan penggunaan di lapangan dan perbandingan biaya operasional masing-masing mesin.