WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kekeringan di Kabupaten Banjar meluas. 

Tidak hanya menyasar lahan pekarangan dan gambut, kobaran api mulai merambah kawasan objek wisata hingga pegunungan.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Banjar, H Yudi Andrea mengungkapkan pergeseran titik rawan karhutla saat ini mendominasi beberapa wilayah vital, seperti Kecamatan Gambut, Kertak Hanyar, Sungai Tabuk, dan sekitarnya.

Baca juga: Musim Hujan Kalsel Diprediksi Mulai November, Diawali di Banua Enam

Baca juga: 11 Atlet SOIna Banjar Perkuat Kalsel pada Pesonas di NTT, Bawa Semangat dan Percaya Diri

Tak hanya itu, api juga tercatat sempat menyasar kawasan wisata alam seperti Kiram dan Desa Awang Bangkal Barat, Kecamatan Karang Intan.

”Memang kemarin kita lihat terjadi beberapa kebakaran yang merambah kawasan wisata seperti di Kiram dan Awang Bangkal Barat. Tim gabungan langsung turun ke lokasi untuk segera melakukan pemadaman,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (16/10/2026). 

Yudi memaparkan, penanganan di area pegunungan dan perbukitan memiliki kendala tersendiri lantaran medan yang sulit dijangkau oleh personel darat. 

Oleh karena itu, bantuan armada udara (water bombing) sangat dibutuhkan untuk menjangkau titik api di ketinggian.

"Kondisi wilayahnya cukup sulit karena berada di atas gunung, sehingga kita memang memerlukan bantuan dari helikopter water bombing,” jelasnya.

Meski begitu, Pemkab Banjar bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjar terus berkoordinasi intensif dengan Pusdalops BPBD Provinsi Kalimantan Selatan untuk mengusulkan bantuan bom air tersebut.

Sembari menunggu dukungan armada udara yang sebagian besar difokuskan pada pengamanan area Ring 1, Yudi mengatakan Pemkab Banjar mengambil langkah taktis dengan meyakinkan penanganan di jalur darat.

”Karena ada pergeseran titik lokasi karhutla yang mengarah ke daerah Gambut dan sekitarnya, fokus kita saat ini adalah menebalkan pasukan dan personel Satgas di darat untuk memitigasi potensi kebakaran yang lebih luas,” tegasnya.

Selain ancaman karhutla, dampak kemarau berupa krisis air bersih juga mulai dirasakan warga di sejumlah desa.