WARTABANJAR.COM, BANJARBARU - Tanggal 11 Oktober diperingati masyarakat Banua sebagai hari wafatnya Pangeran Antasari, Pahlawan Nasional yang memimpin perlawanan terhadap Belanda di Kalimantan. 

Di balik perjuangannya, terdapat sejumlah catatan sejarah mengenai kondisi kesehatan yang diduga berkaitan dengan wafatnya tokoh tersebut.

Akademisi UIN Antasari Banjarmasin sekaligus sejarawan, Mursalin, menjelaskan kondisi fisik Pangeran Antasari diduga mengalami penurunan setelah bertahun-tahun menjalani perjuangan di medan perang.

Menurutnya, perjalanan panjang dengan medan yang berat turut menguras tenaga pasukan, termasuk Pangeran Antasari.

“Beliau pernah terkena sakit paru-paru. Hitung saja dari 1859, lari dan perang terus, dari Kumbayau, Pengaron, Amuntai, Kurau, Montalag, Gunung Tongka, sampai meninggal di Teweh. Medan yang sidin lalui berat,” ujarnya, Minggu (11/10/2026).

Ia menjelaskan, medan perjuangan yang dilalui Pangeran Antasari tidak hanya berupa daratan, tetapi juga rawa-rawa hingga kawasan pegunungan. 

Baca Juga: Kabut Asap Kurangi Penyewa Sepeda di Kawasan Kantor Gubernur Kalsel

Baca Juga: Air PTAM Intan Banjar Macet Dua Hari, Usaha Isi Ulang Galon di Banjarbaru Terkendala

Beratnya kondisi medan tersebut juga berdampak pada pasukan Belanda yang melakukan pengejaran di bawah pimpinan Van Vlotten. 

”Sejumlah anggota pasukan mereka dikisahkan terserang demam hingga tifus,” paparnya. 

Selain persoalan kesehatan paru-paru, Mursalin menyebut Pangeran Antasari juga diduga terjangkit cacar setelah berkunjung ke kawasan tepi Sungai Teweh.

Ia mengaitkan dugaan tersebut dengan laporan Kiai Rangga Niti Kusuma kepada pihak Belanda, yang menyebutkan adanya epidemi cacar di Lahei dan sepanjang Sungai Teweh pada September 1862.

“Analisis ulun, kemungkinan beliau terjangkit dari pasukan beliau sendiri, sehabis dari Kapuas dan Tumbang Moroi, karena di sana juga ada cacar,” ungkapnya.

Mursalin menegaskan, dugaan tersebut merupakan analisis berdasarkan catatan sejarah mengenai penyebaran penyakit dan perjalanan Pangeran Antasari. 

Karena itu ditambahkannya, penyebab pasti wafatnya perlu ditempatkan sesuai bukti sejarah yang tersedia.

Selain kisah perjuangan dan kondisi kesehatannya, riwayat pemakaman Pangeran Antasari juga menyimpan catatan tersendiri.