WARTABANJAR.COM - Kiriman kabut asap kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kalimantan dan Sumatera, Indonesia menyelimuti langit Singapura saat gelaran balapan Formula 1 (F1).

Balapan mobil dunia F1 berlangsung di Sirkuit Jalan Raya Mariba Bay, 9-11 Oktober 2026 ini.

Meski pandangan agak terganggu oleh kabut, sesi kualifikasi sudah digelar pada Jumat kemarin.

Hasilnya Max Verstappen di Red Bull Racing berada di posisi terdepan.

Ia diikuti pembalap Mercedes, George Russell dan Charles Leclerc dari Ferrari di urutan kedua dan ketiga.

Sebelumnya, Federasi Internationale de l'Automobile (FIA) memastikan rangkaian balapan utama F1 tetap berlangsung.

Operasional lintasan dan jadwal latihan maupun kualifikasi tetap berjalan sesuai rencana awal tanpa ada penundaan yang signifikan.

Namun, FIA juga menyatakan tidak menutup kemungkinan adanya penyesuaian operasional jika situasi kualitas udara memburuk.

Karena itu, FIA akan terus berkoordinasi dengan badan lingkungan setempat.

Selain itu, beberapa acara seperti panggung hiburan dan konser musik akan dikenakan pembatasan tergantung eskalasi tingkat polusi udara.

Ditegaskan pula, FIA akan belajar dari pengalaman serupa pada 2019. 

Baca Juga: Awalan Positif Veda Ega di Moto3 Mandalika, Posisi 12 Practice Lolos ke Q2

Baca Juga: Link Live Skor Hasil Barito Putera vs Persiba, Frans Sinatra: Haram Kalah di Kandang

Saat itu, panitia penyelenggara telah menyiagakan tim medis darurat serta menyediakan masker khusus N95 bagi siapa saja yang membutuhkan perlindungan pernapasan tambahan di area sirkuit.

Menyikapi kondisi itu, Kabiro Humas dan Kerja Sama Luar Negeri Kemenhut RI, Ristianto Pribadi menyampaikan Indonesia memandang kondisi itu sebagai kepentingan bersama untuk menjaga kualitas lingkungan dan keselamatan masyarakat di kawasan.

"Kementerian Kehutanan memahami perhatian negara-negara tetangga terhadap kabut asap dan potensi dampaknya bagi kesehatan masyarakat serta berbagai kegiatan publik, termasuk penyelenggaraan Formula 1 di Singapura," ujarnya.

Dalam semangat bertetangga yang baik, Indonesia mengedepankan komunikasi yang konstruktif, pertukaran data yang terverifikasi, dan kerja sama yang konkret.