Ternyata Hacker Lebih Jago Pakai AI daripada Polisi Siber
Dalam serangan phishing lewat telepon, 93 persen serangan berhasil membuat korban terus meladeni percakapan pelaku.
AI turut menurunkan minimum skill yang dibutuhkan buat menyerang. Penjahat siber yang kurang berpengalaman kini bisa menjalankan serangan, yang dulu cuma sanggup dilakukan peretas kelas atas.
Dalam laporannya, Microsoft menuliskan peretas asal China memakai AI buat mencari celah keamanan. Kelompok asal Rusia memanfaatkan vibe coding, yakni membuat program cukup dengan memberi perintah ke AI, serta alat peretasan buatan AI.
Dengan cara ini, tools hacking dibuat tanpa harus menulis kode sendiri baris demi baris.
Sementara hacker asal Korea Utara memakai AI buat banyak hal sekaligus. Mulai dari membuat identitas palsu, menipu korban lewat rekayasa sosial, membuat malware, hingga mengelola infrastruktur serangan.
Rekayasa sosial sendiri adalah teknik memanipulasi korban, supaya mau menyerahkan data atau menuruti perintah pelaku.
Meski begitu, sebagian besar serangan masih dikendalikan manusia.
Menurut Microsoft, sistem AI yang mampu menjalankan serangan dari awal sampai akhir secara otomatis baru terlihat di laboratorium, dan sedikit kasus awal di dunia nyata sebagaimana dirilis Kompas.com dari BleepingComputer.
Microsoft menilai, pihak bertahan harus bergerak cepat menutup ketertinggalan ini, salah satunya dengan memakai autentikasi multifaktor (MFA) yang tahan phishing dan passkey.
Passkey adalah cara masuk ke akun tanpa password. Cukup pakai sidik jari, wajah, atau PIN perangkat.
Microsoft juga meminta organisasi memprioritaskan pengamanan identitas. Organisasi perlu beralih dari sekadar merespons insiden ke upaya aktif mencari titik lemah sebelum diserang, serta mempercepat penambalan celah keamanan. (Wartabanjar.com)