WARTABANJAR.COM - Hasil penelusuran raksasa Microsoft menemukan kenyataan penjahat siber saat ini lebih jago memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), kalau dibanding tim keamanan yang melawan mereka. 

Temuan itu tertuang dalam laporan tahunan Microsoft Digital Defense Report 2026. Laporan ini disusun dari lebih dari 165 triliun sinyal keamanan yang diproses Microsoft setiap hari. 

Dalam laporan itu, Microsoft memperkirakan posisi hakcker dan polisi cyber pada akhirnya akan kembali seimbang. Namun untuk waktu dekat, hacker lebih dulu meraih keunggulan.

AI membuat serangan berjalan jauh lebih cepat. Bagi hacker kelas atas, serangan yang dulu butuh waktu berhari-hari kini bisa dipangkas jadi hitungan detik. 

Hacker juga memakai AI untuk membuat malware yang dirancang sesuai target. 

AI turut mempercepat langkah setelah hacker berhasil masuk, seperti mencuri data dan berpindah ke sistem lain di jaringan korban. 

Proses yang biasanya makan waktu berhari-hari ini kini bisa selesai dalam hitungan menit.

Celah keamanan kini lebih cepat disalahgunakan. Jeda waktu antara ditemukannya sebuah celah dan dipakainya celah itu, untuk menyerang kini sudah di bawah 24 jam. 

Baca Juga: Mengisi Daya Ponsel Ada Urutannya Biar Baterai Lebih Awet

Baca Juga: Instagram Kenalkan Fitur Pixel, Wajah di Foto Stories Bisa Dipixel

Di sisi lain, perbaikan celah berjalan jauh lebih lambat. Salah satu penyebabnya, banyak sistem belum punya pengujian otomatis yang memadai untuk memastikan patch aman dipasang. 

"Ini berarti dunia kemungkinan akan mengalami periode bertahun-tahun, ketika jumlah celah yang sudah diketahui tetapi belum ditambal melonjak," tulis Microsoft.

Laporan yang sama juga mencatat sejumlah angka serangan di luar urusan AI. Layanan dan aplikasi cloud (cloud workload) yang terbuka ke internet, rata-rata sudah diserang dalam 5,3 jam dan pencurian data terjadi pada 63 persen penyusupan. 

Microsoft mendeteksi lebih dari 46 juta serangan yang menyamar sebagai e-mail bisnis, dalam 12 bulan terakhir.