"Memang tidak terlalu besar ya. Paling 1x1, dalamnya mungkin setengah meter sampai dengan satu meter. Tapi yang penting adalah di-refill terus, diisi lagi dengan air yang bersih sehingga satwa bisa minum, tidak kekeringan," ucapnya.

BKSDA Kaltim kini turut meminta perusahaan yang mengelola kawasan habitat satwa ikut menyediakan sumber air. 

Surat edaran telah dikirim kepada sejumlah entitas pertambangan, perkebunan sawit hingga perusahaan kehutanan.

Menurut Ari, perusahaan turut memiliki tanggung jawab menjaga satwa yang hidup di sekitar wilayah operasionalnya. 

Selain mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), ketersediaan sumber air untuk satwa juga perlu diperhatikan selama kemarau.

Founder Conservation Action Network (CAN) Borneo Paulinus Kristanto mengapresiasi langkah penyediaan sumber air tersebut. 

Menurutnya, kemarau panjang yang terjadi bersamaan dengan kondisi hutan terfragmentasi membuat satwa semakin kesulitan menemukan sumber air.

"Hal ini sangat penting karena dengan kondisi kemarau panjang dan hutan yang terfragmentasi, sumber air sangat kurang," ujar Paulinus.

Paulinus mengatakan kondisi itu telah terlihat dari sejumlah orangutan dan satwa lain yang ditemukan mengalami dehidrasi. (wartabanjar.com)