Sekolah HST Mulai Tatap Muka, Siswa Dipulangkan Lebih Cepat Saat Udara Memburuk
WARTABANJAR.COM, BARABAI – Sejumlah sekolah di Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan mulai kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka, Senin (21/9/2026).
Namun, kegiatan belajar masih menyesuaikan kondisi kualitas udara, termasuk kemungkinan memulangkan siswa lebih cepat ketika udara kembali memburuk.
Di kawasan Barabai, beberapa sekolah masih menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ), di antaranya SDN 1 Barabai Timur, SDN 2 Barabai Timur, SDN 2 Benawa Tengah, SMPN 1 HST dan MAN 2 HST.
Sementara SDN 1 Guha, SMPN 17 HST, MIN 5 HST dan sejumlah sekolah lainnya sudah kembali melaksanakan tatap muka.
Kepala Dinas Pendidikan HST Muhammad Anhar mengatakan, pola pembelajaran disesuaikan dengan kondisi kualitas udara di masing-masing wilayah. Kebijakan tersebut mengacu pada kategori Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU).
Baca Juga Satu Korban Diduga Penumpang Kapal Virgo Ditemukan di Seruyan Hilir Kalteng
Baca Juga Kualitas Udara Sangat Tidak Sehat, CFD Tabalong Sementara Ditiadakan
“Kalau kondisi udara memburuk, pola pembelajaran akan disesuaikan,” kata Anhar.
Dalam panduan yang mulai berlaku 21 September 2026, sekolah dapat melaksanakan tatap muka penuh saat ISPU berada pada kategori baik hingga sedang. Ketika kualitas udara masuk kategori tidak sehat, pembelajaran dapat dilakukan secara terbatas dan PJJ diberlakukan bagi kelompok rentan.
Jika ISPU mencapai kategori sangat tidak sehat, pembelajaran tatap muka dihentikan dan sekolah menerapkan PJJ total. Sedangkan pada kategori berbahaya, aktivitas yang menimbulkan kerumunan di lingkungan sekolah dihentikan.
Di sekolah yang sudah kembali melaksanakan tatap muka, kondisi udara tetap dipantau selama kegiatan belajar berlangsung. Ketika kualitas udara memburuk, kegiatan belajar pun tidak dilanjutkan hingga akhir jam pelajaran.
Guru SMPN 17 HST M. Rizky Fadillah mengatakan, siswa di sekolahnya sudah dipulangkan lebih cepat setelah pembagian Makanan Bergizi Gratis (MBG) dan pemberian tugas.
“Setelah pembagian MBG dan tugas, anak-anak kami pulangkan lebih cepat karena melihat kondisi udara yang mulai memburuk,” katanya.