WARTABANJAR.COM, PARINGIN - Angin segar berembus bagi para petani porang di Kabupaten Balangan, Kalimantan Selatan. 

Meski masih dibayang-bayangi musim kemarau, nilai ekonomi komoditas porang terus meroket.

Harga bibit porang di pasaran melonjak tajam lantaran rumitnya proses karantina pratanam, Sabtu, (19/9/2026).

Saat ini, harga bibit umbi porang dipatok pada kisaran Rp40 ribu per kilogram.

Angka ini kalah jauh dibanding bibit jenis katak porang yang harganya melesat hingga Rp130 ribu sampai Rp170 ribu per kilogram.

Kasapul Anwar, petani porang asal Desa Merah, Kecamatan Awayan, membeberkan bahwa lonjakan harga ini berbanding lurus dengan risiko yang dihadapi para penyedia bibit selama masa karantina prakerja.

"Bibit umbi maupun katak porang wajib melewati masa karantina sebelum masuk ke media tanam. Proses ini sangat krusial karena bibit rentan diserang jamur, terutama saat cuaca tidak menentu. panas terik yang sesekali diselingi hujan," papar Kasapul.

Kerentanan tersebut menuntut petani dan penyedia bibit bekerja ekstra telaten dalam menjaga kestabilan suhu serta kelembapan. 

Jika lengah sedikit saja, bibit yang terinfeksi jamur dipastikan membusuk dan gagal tanam.

Mengenai siklus budi daya, Kasapul menjelaskan bahwa porang merupakan tanaman musiman yang ritme tumbuhnya bergantung pada pasokan air hujan.

"Awal musim hujan adalah waktu paling ideal untuk mulai menanam. Begitu memasuki awal musim kemarau berikutnya, tanaman ini akan memasuki masa dorman atau mati suri. Nah, pada fase itulah umbinya siap dipanen," terangnya.

Meski modal awal untuk membeli bibit tergolong menguras kantong dan karantinanya terbilang rumit, pembesaran porang di lahan terbuka justru relatif mudah.

Petani bahkan dapat melipatgandakan keuntungan lewat teknik tumpang sari.

"Perawatan di lahan tidak merepotkan. Porang sangat cocok ditumpangsarikan dengan tanaman hortikultura, seperti cabai. Jadi, petani bisa memaksimalkan satu hamparan lahan untuk panen ganda," pungkasnya. (Wartabanjar.com/Fikri).