Cairan memiliki daya penetrasi sehingga dapat masuk ke bagian tanah yang sulit dijangkau pemadaman dari permukaan.

Penggunaan cairan tersebut juga diarahkan untuk membantu menekan kebutuhan air dalam penanganan karhutla, terutama ketika sumber air menjadi salah satu kendala di lapangan.

Pendekatan itu menjadi penting karena karakter kebakaran gambut berbeda dengan kebakaran di permukaan.

Api dapat bertahan sebagai bara di dalam tanah dan kembali muncul setelah api di permukaan berhasil dipadamkan.

Karena itu, pembasahan gambut dilakukan sebagai bagian dari upaya mencegah munculnya kembali api dari bawah permukaan.

Polda Kalsel mengombinasikan rekayasa aliran air dengan inovasi cairan pemadam tersebut sebagai strategi penanganan yang menyasar dua persoalan sekaligus, yakni menjaga kelembapan gambut dan menangani bara api yang masih bertahan di bawah tanah.

Langkah tersebut sekaligus memperkuat penanganan karhutla secara lintas sektor, dengan memastikan upaya pencegahan tidak hanya dilakukan saat api muncul, tetapi juga dengan mengendalikan kondisi gambut agar tetap basah dan tidak mudah terbakar. (Wartabanjar).