Hadapi Kekeringan dan Karhutla, Kodim 1006/Banjar Rancang Sumur Bor di Banjar-Banjarbaru
Kebutuhan tersebut dinilai semakin penting di sejumlah wilayah yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan air bersih.
Prabujaya mencontohkan kondisi di kawasan Transad yang mulai mengalami keterbatasan air bersih.
“Di Transad air susah. Air bersih khususnya ya, bukan air keperluan untuk mandi atau mencuci, tapi air bersih susah,” ungkapnya.
Sementara untuk penanganan karhutla, Prabujaya mencontohkan kondisi di Tegal Arum yang masih mengandalkan sungai sebagai sumber air pemadaman.
“Air itu hanya berasal dari sungai yang ada di Tegal Arum, tapi kondisinya kan sudah debitnya rendah. Rendah sekali,” ungkapnya.
Karena itu, pembangunan sumur bor dinilai bukan sekadar solusi untuk kebutuhan pemadaman saat ini.
Prabujaya melihatnya sebagai langkah untuk menghadapi persoalan karhutla yang berulang setiap tahun sekaligus mengantisipasi kekeringan.
“Ini juga sebagai salah satu langkah strategis kita untuk bisa menyelesaikan masalah kebakaran hutan ini secara lebih terstruktur, sehingga masalah kebakaran hutan ini tidak berulang setiap tahun,” bebernya.
Menurutnya, pola dan dampak karhutla hampir selalu berulang setiap tahun, meski skalanya berbeda.
Kondisi tahun ini menjadi lebih sulit karena faktor cuaca yang membuat kondisi lahan dan sumber air semakin kering.
“Karena saya lihat pola dan dampaknya tuh setiap tahun hampir sama, cuma memang skalanya yang berbeda-beda. Nah, tahun ini yang membuat dia sedikit lebih sulit untuk diselesaikan karena adanya dampak dari El Nino tersebut,” tuturnya.
Untuk pelaksanaannya, rencana sumur bor masih membutuhkan persiapan teknis, termasuk menentukan titik yang paling membutuhkan.
“Tadi kita berupaya secepatnya. Tapi kan kita butuh perencanaan, karena sumur bor juga kan butuh penyiapan secara teknis dan juga perencanaan titik-titiknya di mana,” pungkasnya. (wartabanjar.com)