Teknologi tersebut juga telah diuji coba pada kebun cabai milik salah satu anggota tim di Palajau.

Dalam uji coba itu, Bahuma.id disebut mampu menghemat biaya pemupukan hingga 20 persen sekaligus membantu meningkatkan produktivitas tanaman.

Namun, inovasi Bahuma.id tidak hanya mengandalkan teknologi. Tim juga membawa konsep pemberdayaan dengan melibatkan petani milenial, untuk mendampingi petani lainnya dalam penerapan inovasi tersebut.

“Bahuma.id ini basisnya pemberdayaan dengan melibatkan petani milenial untuk melakukan pendampingan terhadap petani lainnya, sehingga memudahkan dalam pengaplikasian inovasi ini,” kata Hidayatullah.

Platform tersebut juga masih terbuka untuk dikembangkan dengan sejumlah fitur tambahan. 

Salah satunya sistem penyiraman otomatis yang dapat dikendalikan melalui smartphone, sehingga petani tidak harus melakukan pengaturan secara manual.

Menurut Hidayatullah, pengembangan Bahuma.id juga diarahkan untuk mendukung pertanian rendah emisi karbon, dan sejalan dengan program nasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030.

“Inovasi ini berkontribusi nyata mendukung program nasional Indonesia’s FOLU Net Sink 2030 melalui metode bertani rendah emisi karbon,” ujarnya.

Ia berharap Bahuma.id mendapat dukungan untuk terus dikembangkan, dan nantinya dapat digunakan lebih luas oleh petani.

“Semoga inovasi yang kami tawarkan ini dapat diterima dan mendapat dukungan untuk pengembangannya, sehingga nantinya bisa membantu para petani dalam efektivitas pertanian berkelanjutan,” pungkasnya. (wartabanjar.com/Adew)