Amabel dan Zaaidan Mengakui Mereka Tidak Hanya Asal Tembak
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN - Teriknya matahari di Kota Banjarmasin tak mampu menghentikan semangat Wayneza Quinsha Amabel dan Muhammad Zaaidan Ansyar.
Amabel dan Zaaidan, begitulah keduanya kerap disapa. Saat yang lain tengah santai, kedua atlet cabor menembak ini justru sibuk menyiapkan senjata tembak masing-masing.
Amabel dan Zaaidan seakan tak ingin membiarkan waktu mereka sedetikpun habis terbuang begitu saja tanpa hal produktif.
Mereka tahu betul kedatangan mereka di gedung tembak Pengprov Perbakin Kalsel bukan untuk hal sepele, tapi mengejar mimpi menjadi yang terbaik di kejuaraan tembak Walikota Banjarmasin Cup 2026, Sabtu (01/08/2026).
Kepada Wartabanjar.com, Amabel membeberkan sedikit suka dukanya menjadi seorang atlet menembak.
Menurut perempuan berkulit terang ini, olahraga menembak pada dasarnya bukan sekadar soal membidik sasaran, melainkan perjuangan menguasai teknik, dan menjaga fokus mental di setiap prosesnya.
Baca Juga: Pengprov dan Pengda Harus Berkolaborasi Mencetak Atlet Tembak
Baca Juga: Ratusan Atlet Pelajar Berebut Kesempatan Tampil di POPDA Kalsel
Kisah bahagia terbesar yang ia rasakan adalah saat kerja keras kedisiplinan latihan akhirnya berbuah manis di arena pertandingan, momen ketika ketenangan detak jantung dan pikiran memandu jarinya menarik pelatuk, hingga berhasil berdiri di podium juara dan membuat kedua orang tua bangga.
Namun, di balik torehan indah itu, ternyata ada duka yang tak bisa ia hindar dan sangkal.
"Saya hadapi, mulai dari perjuangan menaklukkan gejolak emosi agar mental tidak goyah, hingga tantangan biaya yang tidak sedikit untuk pengadaan senjata dan amunisi," ungkap sosok yang mengaku sangat siap dan berhasrat menjadi juara di Walikota Banjarmasin Cup 2026 ini.
Meski begitu, lanjut Amabel, segala pengorbanan ini justru membentuk dirinya menjadi pribadi yang sabar, pantang menyerah, dan akhirnya bangga bisa mengukir prestasi lewat cabang olahraga menembak.
Sama halnya dengan Amabel, Zaaidan pun pernah mengecap pahit manisnya menjadi atlet tembak. Tanpa canggung, ia pun membeberkan suka dukanya.