WARTABANJAR.COM, BALIKPAPAN– Kebahagiaan dirasakan keluarga serta 340 personel Batalyon Infanteri (Yonif) 613/Raja Alam, Rabu (22/7/2026) pagi.

Mereka dapat bertemu kembali setelah sekitar satu tahun berpisah.

Prajurit tersebut mendarat di Semayang, Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur setelah menyelesaikan tugas pengamanan wilayah perbatasan Indonesia–Papua Nugini di Papua.

Turun dari Kapal Republik Indonesia (KRI), para prajurit disambut Panglima Kodam VI/Mulawarman, Mayor Jenderal TNI Krido Pramono.

“Seluruh personel kembali dalam keadaan aman dan lengkap. Ini menunjukkan kedisiplinan, kesiapan, dan profesionalisme prajurit selama menjalankan tugas negara di wilayah dengan tantangan yang tidak ringan,” kata Krido.

Namun Krido menilai keberhasilan Satgas tidak hanya diukur dari pelaksanaan operasi keamanan, tetapi juga dari kemampuan prajurit membangun hubungan yang baik dengan masyarakat .

Selama bertugas, Satgas Yonif 613/Raja Alam melaksanakan sejumlah operasi di beberapa wilayah Kabupaten Puncak Jaya dan sekitarnya, termasuk penguasaan kembali sejumlah titik strategis.

BACA JUGA: Update Puluhan Oknum TNI Serang Polres Tarakan, Kapendam: Bukan Konflik Antar Institusi

BACA JUGA: OPM Makin Brutal, Bakar Gedung Sekolah Usai Tembak Mati Warga Papua

Di antaranya merebut kembali Titik Yamo di Puncak Jaya, Titik Undu, Titik Purbalo, Titik Mewoluk di wilayah Yambi–Mewoluk, hingga melaksanakan operasi pembersihan di Kampung Lolok, Ilamburawi.

Namun, pencapaian yang dianggap paling menonjol adalah pendekatan sosial yang dilakukan prajurit kepada warga.

Berbagai kegiatan seperti pelayanan kesehatan, bantuan pendidikan, karya bakti, hingga komunikasi dengan tokoh adat dan tokoh agama, mampu menciptakan hubungan yang harmonis antara TNI dan masyarakat.

“Respons masyarakat sangat baik. Mereka menerima keberadaan prajurit dengan terbuka sehingga selama penugasan tidak terjadi kontak tembak. Ini menjadi indikator bahwa pendekatan yang dilakukan berjalan efektif,” ujarnya.

Bahkan, pendekatan humanis tersebut mendorong lima anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM) Kodap XXVIII Yambi-Mewoluk menyatakan ikrar kembali kepada NKRI.

Setibanya kembali di markas, para prajurit tidak bisa langsung bebas tugas.