WARTABANJAR.COM, MARTAPURA- Pembukaan pintu Waduk Riam Kanan mulai dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan III untuk memberi dampak terhadap kondisi Sungai Martapura yang sebelumnya mengalami penyusutan debit air.

Pembukaan tersebut dilakukan setelah Pemerintah Kabupaten Banjar dan DPRD setempat menyampaikan aspirasi masyarakat kepada BWS Kalimantan III.

Menyusul dampak kekeringan yang dirasakan warga di sepanjang aliran Sungai Martapura, khususnya wilayah Karang Intan dan sekitarnya hingga memicu kematian massal ikan di keramba.

Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar, H. Yudi Andrea mengatakan bertambahnya debit air mulai membawa perubahan terhadap kondisi sungai yang beberapa hari terakhir dipenuhi bangkai ikan akibat kematian massal.

”Alhamdulillah sudah direspons oleh rekan-rekan kita di BWS dan ini sudah dibuka. Alhamdulillah ini juga berpengaruh terhadap kondisi lingkungan, khususnya di daerah aliran sungai yang sudah mulai membersihkan sisa-sisa bangkai ikan kemarin,” ujarnya saat ditemui, Rabu (22/7/2026).

Menurut Yudi, tambahan debit air tersebut juga diharapkan dapat dimanfaatkan masyarakat untuk menghadapi ancaman kekeringan yang masih berpotensi terjadi.

”Mudah-mudahan ini bisa dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat sekitar untuk mempersiapkan kondisi kedaruratan karhutla ke depannya,” katanya.

Namun, pembukaan pintu waduk tersebut tidak berlangsung selamanya sehingga masyarakat diminta memanfaatkan kondisi tersebut sebaik mungkin.

”Kalau tidak salah pembukaan ini berbatas waktu juga. Tadi, diberikan waktu dua minggu sehingga masyarakat bisa memanfaatkan dengan baik,” ucapnya.

Yudi menjelaskan bertambahnya debit air tidak hanya membantu mengurangi dampak kekeringan di Sungai Martapura, tetapi juga mendukung kebutuhan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

BACA JUGA: Lestarikan Spesies, DKPP Banjar Lepasliarkan Ikan Belida ke Waduk Riam Kanan

BACA JUGA: Viral, Air di Waduk Riam Kanan Bergolak Disapu Angin Kencang

”Karena untuk kawan-kawan di PLN menjaga turbin ini bisa jalan, mereka harus memiliki debit air yang cukup. Ada standar dari mereka,” jelasnya.

Ia mengatakan kondisi tersebut sempat mengganggu operasional sebelum akhirnya disiasati melalui pembukaan pintu waduk oleh BWS Kalimantan III.