Tiga Spesies Kelelawar Ditemukan di Goa Batu Hapu Tapin

Ramadhan menjelaskan, penelitian yang lebih komprehensif diperlukan karena aktivitas kelelawar sangat dipengaruhi oleh waktu pengamatan, musim, serta karakter habitat gua.

“Penelitian lanjutan dengan durasi pengamatan yang lebih panjang dan metode identifikasi yang lebih mendalam akan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai komposisi spesies, kondisi populasi, pola aktivitas, hingga fungsi ekologis kelelawar di Goa Batu Hapu. Data tersebut sangat penting sebagai dasar pengelolaan kawasan secara ilmiah,” tambahnya.

Ia menerangkan, masing-masing spesies memiliki karakteristik ekologis yang berbeda. Hipposideros larvatus dikenal memiliki struktur daun hidung (noseleaf) yang membantu proses ekolokasi saat berburu serangga, sementara Taphozous melanopogon memiliki rambut gelap menyerupai janggut pada bagian dagu dan tenggorokan serta memanfaatkan gua sebagai tempat beristirahat.

Adapun Taphozous longimanus memiliki sayap yang relatif panjang sehingga mampu terbang secara efisien saat mencari makan maupun berpindah habitat.

Sementara itu, Geologist Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark, Aditya Rathomy, menjelaskan bahwa kondisi geologi Goa Batu Hapu menjadi salah satu faktor utama yang mendukung keberadaan berbagai spesies kelelawar.

“Goa Batu Hapu memiliki tingkat kelembapan yang relatif stabil dengan kondisi lingkungan yang masih alami. Keberadaan ornamen stalaktit dan stalagmit yang terjaga menciptakan habitat yang sesuai bagi kelelawar untuk beristirahat, berkembang biak, dan menjalankan siklus hidupnya,” jelas Aditya.