Dalam satu kali distribusi, ia biasanya menerima sekitar 45 dus MinyaKita kemasan dua liter dengan isi enam kemasan per dus.

Namun pada waktu tertentu, pasokan yang diterima bisa berkurang hingga sekitar 25 dus dalam sepekan.

Menurut Fauzan, MinyaKita kemasan satu liter juga mulai jarang tersedia dibandingkan sebelumnya.

“Yang satu liter sudah jarang dikirim. Yang datang kebanyakan dua liter,” katanya.

Ia menjelaskan, ketika stok dari jalur distribusi resmi habis, sebagian pedagang terpaksa mencari pasokan tambahan dari agen lain agar tetap dapat memenuhi kebutuhan pembeli.

Fauzan menyebut harga MinyaKita yang diperoleh dari Bulog sekitar Rp174 ribu per dus, Sementara apabila membeli dari agen lain, harganya bisa mencapai sekitar Rp250 ribu per dus.

“Kalau dari Bulog sekitar Rp174 ribu per dus. Kalau ambil dari agen bisa sampai Rp250 ribu per dus, jadi kami jual Rp22 ribu per liter,” ujarnya.

Menurutnya, perbedaan harga modal tersebut turut memengaruhi harga jual di tingkat pedagang, terutama ketika pasokan dari jalur distribusi resmi tidak mencukupi kebutuhan pasar.

Dinas Perdagangan HST berharap pengawasan yang dilakukan dapat mendorong kepatuhan pedagang terhadap HET sekaligus memastikan masyarakat memperoleh MinyaKita dengan harga yang sesuai ketentuan pemerintah. (wartabanjar.com/Adew)

Editor: Yayu