WARTABANJAR.COM, BARABAI – Keindahan Gunung Halau-Halau memang tidak pernah gagal memikat para pendaki. Gunung tertinggi di Kalimantan Selatan ini menyimpan pesona alam yang mampu meninggalkan kesan mendalam bagi siapa saja yang menjejakkan kaki hingga ke puncaknya.

Salah satunya dirasakan Maulana, pendaki asal Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), yang sudah tiga kali mendaki gunung setinggi 1.901 meter di atas permukaan laut (mdpl) tersebut.

Ia mengaku, pengalaman berada di puncak Halau-Halau menjadi momen yang tak terlupakan.

Baca Juga: Pemkab HST Bantah Gunung Halau-Halau Ditutup

Baca Juga: Isu Penutupan Gunung Halau-Halau, Disporabudparekraf HST Siap Fasilitasi Dialog

“Indah sekali pemandangannya, sampai saya sendiri tidak menyangka. Waktu pertama kali melihat hamparan awan di puncak, rasanya campur aduk sampai meneteskan air mata,” ujar Maulana kepada wartabanjar.com, Rabu (6/5/2026).

Gunung yang berada di kawasan Pegunungan Meratus ini memang dikenal memiliki panorama yang memukau.

Dari puncaknya, pendaki bisa menikmati hamparan awan, matahari terbit, hingga bentang hutan tropis yang luas.

Namun, keindahan tersebut harus dibayar dengan perjuangan yang tidak mudah. Jalur pendakian Gunung Halau-Halau masih sangat alami, didominasi hutan lebat, lintasan sungai, serta medan menanjak yang cukup ekstrem.

Pendakian umumnya dimulai dari Desa Kiyu, Kecamatan Batang Alai Timur, atau melalui Desa Kadayang di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Dalam perjalanan, pendaki akan melewati sejumlah pos seperti Kampung Kiyu, Tiranggang, Sungai Karuh, Jumantir, Simpang Tiga Haraan, Lembah Cirit, hingga Penyaungan sebelum mencapai puncak.

Selain medan yang berat, pendaki juga harus siap menghadapi pacet yang banyak ditemukan di sepanjang jalur.

Meski begitu, semua tantangan tersebut seolah terbayar lunas saat tiba di puncak.

Tak hanya itu, Gunung Halau-Halau juga memiliki keunikan berupa Pohon Kariwaya, pohon besar menyerupai beringin dengan batang berlubang yang bisa dilalui manusia, menyerupai gerbang alami yang menjadi ikon khas bagi para pendaki menuju puncak.

Di tengah pesonanya, keberadaan Gunung Halau-Halau belakangan ini juga menjadi perbincangan menyusul adanya isu penutupan aktivitas pendakian.