Dinas PUPR Kalsel Gelar Rapat Pleno I Komisi Irigasi, Bahas Anomali Cuaca

Di sisi lain, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan didorong untuk menyusun strategi adaptif menghadapi musim kemarau, seperti penyesuaian kalender tanam berbasis iklim, penggunaan varietas tahan kekeringan, serta optimalisasi distribusi air.

Sementara itu, Kepala Seksi Irigasi dan Air Baku, Herry Ade Permana, mengungkapkan bahwa pelaksanaan Instruksi Presiden (Inpres) di sektor irigasi masih menunggu kepastian alokasi anggaran dari pemerintah pusat.

Ia menekankan perlunya penguatan koordinasi lintas sektor yang lebih terstruktur antara Balai Wilayah Sungai, pemerintah daerah, dan P3A, serta penyusunan pedoman teknis yang komprehensif dari tahap perencanaan hingga serah terima.

“Musim kemarau tahun 2026 diprediksi berlangsung selama enam hingga tujuh bulan dengan puncak pada Agustus. Kondisi ini menuntut langkah antisipatif seperti pemanenan air hujan, penyesuaian pola tanam, serta penguatan sistem peringatan dini berbasis analisis BMKG,” jelasnya.

Selain kekeringan, banjir juga masih menjadi persoalan utama di sejumlah wilayah Kalsel yang berdampak pada produktivitas pertanian. Penanganan dinilai belum optimal akibat lemahnya koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah.

Melalui forum tersebut, peserta menyepakati sejumlah komitmen bersama, di antaranya peningkatan koordinasi dan evaluasi lintas sektor, pelibatan aktif P3A dalam setiap tahapan kegiatan irigasi, pemanfaatan data BMKG dalam perencanaan, hingga penyusunan masterplan pengendalian banjir secara terpadu.

Selain itu, disepakati pula upaya optimalisasi mitigasi kekeringan melalui penyimpanan air, pembaruan data geospasial irigasi, percepatan pembangunan Bendungan Riam Kiwa, hingga rehabilitasi daerah irigasi di Kabupaten Tanah Bumbu.

Hasil sidang pleno ini selanjutnya akan disampaikan kepada Gubernur Kalimantan Selatan untuk ditindaklanjuti serta direkomendasikan kepada pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten/kota.

“Melalui implementasi komitmen tersebut, pemerintah berharap ketersediaan air dapat lebih terjaga, produktivitas pertanian meningkat, dan ketahanan pangan di Kalimantan Selatan semakin kuat di tengah tekanan perubahan iklim,” pungkasnya. (Wartabanjar.com/MC Kalsel/*)

Editor Restu