WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Di tengah lalu lintas yang tak pernah benar-benar sepi, Bundaran Simpang Empat Banjarbaru berdiri lebih dari sekadar pengatur arus kendaraan.
Lokasi ini menyimpan cerita panjang tentang bagaimana sebuah kota tumbuh, berubah, dan menemukan jati dirinya.
Sejak awal dibangun, kawasan ini sebenarnya lahir dari kebutuhan sederhana.
Baca Juga Mau Jual Emas Antam? Harga Hari Ini 21 April 2026 Naik Rp 40.000
Saat Banjarbaru masih berada di bawah administrasi Kabupaten Banjar, bundaran tersebut hanya difungsikan sebagai titik temu beberapa jalur penting.
Namun, bahkan sejak masa awal itu, makna simbolik sudah mulai ditanamkan.
Sejarawan Banua sekaligus akademisi Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari, Mursalin, menyebut tugu di tengah bundaran sejak awal memang dirancang sebagai penanda identitas kota.
“Sejak awal, itu bukan sekadar bundaran. Di situ sudah ada simbol identitas kota,” tuturnya, Selasa (21/4/2026).
Tugu tersebut memadukan lambang intan yang merepresentasikan kekayaan alam Kalimantan Selatan dengan bentuk buku di bagian atasnya, sebagai simbol arah Banjarbaru menuju kota pendidikan.
“Simbol itu tidak muncul begitu saja, ada pesan tentang arah kota ini ke depan,” lanjutnya.
Peran bundaran ini semakin penting ketika Banjarbaru ditetapkan sebagai Kota Administratif pada 17 Agustus 1968.
Posisinya yang berada di simpang jalur menuju Martapura, Jalan Sungai Ulin, dan Jalan Mistar Cokrokusumo menjadikannya pusat pergerakan kota.
Seiring waktu, kawasan di sekitarnya ikut berkembang.
Jauh sebelum status administratif itu ditetapkan, benih kota pendidikan sudah mulai tumbuh dengan hadirnya Universitas Lambung Mangkurat pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an.
Kehadiran kampus tersebut membawa arus mahasiswa dan tenaga pengajar, yang kemudian memicu tumbuhnya permukiman dan aktivitas ekonomi di sekitar bundaran.
“Di situ terlihat jelas, kota ini tumbuh dari dua hal yaitu sumber daya alam dan pendidikan,” jelas Mursalin.
Menurutnya, perkembangan kawasan Simpang Empat tidak bisa dilepaskan dari pergerakan manusia yang terus meningkat.
“Setiap simpul kota biasanya berkembang mengikuti aktivitas manusianya,” tambahnya, menggambarkan dinamika kawasan tersebut.







