WARTABANJAR.COM, PELAIHARI – Keanggunan busana tradisional memenuhi Balairung Tuntung Pandang saat puluhan perwakilan organisasi wanita berkompetisi dalam Lomba Kebaya Klasik dan Kebaya Nuansa Banjar.
Ajang ini digelar sebagai benteng pertahanan budaya dalam rangka Hari Kartini ke-147, Senin (20/4/2026).
Ketua TP PKK Kabupaten Tanah Laut, Hj. Dian Rahmat, dalam sambutannya memberikan pesan mendalam mengenai tantangan pelestarian budaya di era digital yang sangat masif. Ia menyoroti fenomena generasi muda yang kini lebih akrab dengan tren mancanegara dibandingkan busana asli Indonesia.
”Jangan sampai generasi kita nanti lebih mengenal Hanbok atau Kimono daripada Kebaya. Apalagi sekarang trennya anak-anak senang memakai baju crop-top yang memperlihatkan bagian tubuh mereka di depan umum.”
Hj. Dian mengajak para ibu untuk kembali memperkenalkan nilai-nilai ketimuran kepada anak-anak mereka agar identitas bangsa tetap terjaga.
Ia berharap lomba kebaya ini mampu membangkitkan kembali memori kolektif tentang filosofi tata krama dan etika berpakaian yang luhur.
”Padahal kita punya nilai etika berpakaian luhur yang dulu dikenal dengan istilah Ngadi Saliro Ngadi Busono. Bagaimana tata cara berpakaian yang baik dan beretika, itu jangan sampai hilang digerus budaya luar,” tegas Hj. Dian Rahmat.







