Cecep menegaskan bahwa penentuan visibilitas hilal tidak cukup hanya berdasarkan ketinggian, tetapi juga harus memenuhi elongasi. Hal ini karena elongasi berkaitan langsung dengan ketebalan cahaya hilal.
Di Jakarta, lanjutnya, tinggi hilal saat matahari terbenam tercatat sekitar 1,95 derajat dengan elongasi sekitar 5,7 derajat dan umur hilal kurang dari 10 jam. Dengan iluminasi hanya sekitar 0,2 persen, kondisi hilal sangat tipis sehingga peluang terlihat hampir tidak ada.
Ia juga menjelaskan bahwa secara global terdapat perbedaan posisi hilal, di mana di beberapa wilayah dunia hilal sudah memenuhi kriteria, sementara di Indonesia belum. Hal ini memungkinkan terjadinya perbedaan awal Syawal di beberapa negara.
Berdasarkan kriteria yang disepakati MABIMS, yaitu tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat, maka secara hisab Indonesia belum memenuhi syarat imkan rukyat.
Dengan demikian, secara perhitungan, 1 Syawal 1447 H diperkirakan jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, setelah bulan Ramadan disempurnakan menjadi 30 hari.
Meski begitu, Cecep menegaskan bahwa hisab bersifat informatif. Penetapan resmi tetap menunggu hasil rukyatul hilal yang dilakukan di 117 titik pemantauan di seluruh Indonesia sebagai bentuk verifikasi, yang kemudian akan diputuskan dalam sidang isbat oleh pemerintah.
“Secara prediktif, hilal pada hari ini sangat sulit untuk dapat diamati karena posisinya masih berada di bawah kriteria visibilitas saat matahari terbenam,” pungkasnya. (Wartabanjar.com/MUI)
Editor Restu







