Pernyataan demikian maksudnya menegaskan bahwa memperbanyak doa memiliki keutamaan tersendiri pada malam yang penuh keberkahan itu.
Terlebih, jika doa tersebut disertai dengan membaca Alquran dan memohon kepada Allah dengan penuh harapan, maka hal itu merupakan amalan yang sangat baik:
وَأَمَّا الْعَمَلُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ، قَالَ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ: الدُّعَاءُ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنَ الصَّلَاةِ. قَالَ: وَإِذَا كَانَ يَقْرَأُ وَهُوَ يَدْعُو وَيَرْغَبُ إِلَى اللَّهِ فِي الدُّعَاءِ وَالْمَسْأَلَةِ لَعَلَّهُ يُوَافِقُ. انْتَهَى. وَمُرَادُهُ أَنَّ كَثْرَةَ الدُّعَاءِ أَفْضَلُ مِنَ الصَّلَاةِ الَّتِي لَا يُكْثِرُ فِيهَا الدُّعَاءَ، وَإِنْ قَرَأَ وَدَعَا كَانَ حَسَنًا
“Adapun amalan pada malam Lailatul Qadar, Sufyan ats-Tsauri berkata: ‘Berdoa pada malam Lailatul Qadar lebih aku sukai daripada shalat.’ Beliau berkata: ‘Jika seseorang membaca Alquran sambil berdoa dan memohon kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka mudah-mudahan ia mendapatkan keutamaan malam Lailatul Qadar.’ Yang beliau maksud, adalah bahwa memperbanyak doa lebih utama daripada shalat yang di dalamnya tidak banyak doa. Namun jika seseorang membaca Alquran sekaligus berdoa, maka itu sesuatu yang baik.” (Lathaif al-Ma’arif [Beirut: al-Maktab al-Islami], vol. 1, h. 359)
Sebagaimana hadis yang telah disebutkan di atas, bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW telah mengajarkan sebuah doa khusus yang dianjurkan untuk dibaca saat berjumpa Lailatul Qadar.







