Lonjakan harga minyak ini, menurut Ibrahim, dipicu serangan udara yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat (AS) terhadap sejumlah fasilitas minyak Iran pada akhir pekan lalu.
Kemudian, Iran membalas dengan meluncurkan serangan rudal terhadap beberapa fasilitas minyak di kawasan Timur Tengah.
“Serangan udara Israel dan AS menargetkan fasilitas minyak Iran selama akhir pekan, sementara Teheran membalas dengan meluncurkan serangan rudal terhadap beberapa fasilitas minyak di negara-negara Timur Tengah,” kata Ibrahim.
Ketegangan ini, kata dia, terus meningkat setelah Iran dilaporkan melakukan serangan terhadap kapal-kapal yang melintas di Selat Hormuz. Jalur pelayaran energi strategis yang menjadi salah satu sumber pasokan minyak utama bagi negara-negara di Asia.
Gangguan terhadap jalur distribusi energi tersebut berpotensi menimbulkan gangguan pasokan minyak global, jika Selat Hormuz benar-benar ditutup dalam waktu lama.
Situasi geopolitik memanas setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai pengganti Ayatollah Ali Khamenei, menjadi Pemimpin Tertinggi Iran. Ali Khamenei terbunuh dalam serangan udara AS dan Israel pada Sabtu (28/2/2026).
Penunjukan Mojtaba ini, menunjukkan bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali di Teheran. Selain faktor geopolitik, pasar global juga mencermati perkembangan ekonomi di Asia. (Wartabanjar.com/inilah.com)
Editor Restu







