WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, melontarkan pernyataan keras terhadap Amerika Serikat dan Israel dalam sesi tanya jawab bersama sejumlah media di Jakarta.
Dalam forum tersebut, Boroujerdi menegaskan bahwa Iran tidak lagi mempercayai Amerika Serikat setelah berulang kali dianggap melanggar komitmen, termasuk dalam kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
“Kami pernah bernegosiasi, menandatangani kesepakatan, bahkan diperkuat resolusi Dewan Keamanan PBB. Tapi Presiden Amerika Serikat merobeknya secara sepihak,” tegas Boroujerdi.
Ia merujuk pada keluarnya Amerika Serikat dari kesepakatan nuklir Iran pada 2018 di era Presiden Donald Trump. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi alasan utama Teheran menolak negosiasi tanpa adanya jaminan dan kepercayaan yang nyata.
“Negosiasi tanpa kepercayaan tidak ada artinya. Kami bukan pihak yang ingin tertipu lalu diserang,” ujarnya.
Soal Reza Pahlavi dan Campur Tangan AS
Menanggapi isu yang berkembang terkait dukungan Amerika Serikat terhadap tokoh keluarga Shah lama Iran, Reza Pahlavi, Boroujerdi menyebut wacana tersebut tidak relevan.
Ia mengingatkan sejarah intervensi AS pada 1953 yang menggulingkan pemerintahan demokratis Iran dan mengembalikan kekuasaan Shah. Namun menurutnya, rakyat Iran telah menunjukkan sikap tegas melalui Revolusi Islam 1979.
“Jika keluarga itu diinginkan rakyat, mengapa mereka diusir pada 1979?” katanya.
Boroujerdi juga mempertanyakan legitimasi pihak yang menyerukan intervensi asing terhadap negaranya.
“Apakah ada warga negara yang meminta negaranya dibom oleh musuh? Jika ada orang Indonesia meminta negaranya diserang, apakah dia masih disebut warga Indonesia?” ujarnya retoris.
Ia menegaskan bahwa sosok yang menyerukan tekanan atau serangan terhadap Iran tidak dianggap serius oleh pemerintah maupun rakyat Iran.
Sikap terhadap Israel
Dalam pernyataan yang lebih tajam, Boroujerdi kembali menegaskan bahwa Iran tidak mengakui keberadaan negara Israel.
Menurutnya, yang ada adalah “rezim pendudukan” di wilayah Palestina. Ia menyatakan Iran tidak akan bernegosiasi dengan Israel karena tidak mengakui legitimasi pemerintahan tersebut.
Namun ia menambahkan, jika suatu saat terbentuk pemerintahan demokratis yang dipilih seluruh penduduk wilayah tersebut Muslim, Yahudi, maupun Kristen maka Iran akan menghormati hasil tersebut.
Tanggapi Tawaran Mediasi Indonesia
Terkait pernyataan Presiden Indonesia yang membuka peluang mediasi, Boroujerdi menyampaikan apresiasi atas niat baik pemerintah Indonesia.
Namun ia menegaskan hingga saat ini belum ada langkah konkret atau komunikasi resmi terkait proses mediasi.






