WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN- Muslimah di Indonesia akrab dengan penggunaan mukena untuk salat.

Tak hanya untuk dipakai saat salat 5 waktu, namun juga di bulan puasa Ramadhan.

Masjid-masjid dan surau-surau akan dipenuhi oleh pemandangan para perempuan memakai mukena untuk beribadah.

Namun, tahukah kalian asal-usul mukena di Indonesia?

Di negara-negara lain, para muslimahnya salat ada yang tak memakai mukena namun hanya gamis panjang, jilbab dan kaki dibalut kaus kaki, sementara di Indonesia memakai mukena.

Mengapa bisa begitu ya?

Nah, mengutip berbagai sumber, Jumat (27/2/2026), begini sejarahnya.

Di balik mukena, ada sejarah yang tersimpan di dalamnya.

Pada abad ke 14 masehi, hiduplah seorang perempuan pendakwah Islam bernama Sarifah Bagdad di Cirebon yang kini masuk wilayah Provinsi Jawa Barat.

Ia adalah orang pertama yang memperkenalkan mukena kepada kalangan muslimah Cirebon pada masa itu.

Tak heran, ia kemudian tersohor dengan sebutan Nyai Mukena.

Jauh sebelum ada Sunan Gunung Djati pada abad ke-15 masehi, Nyai Mukena sudah menyebarkan syariat Islam di Cirebon.

Dia merupakan salah satu adik dari Syekh Datul Kahfi yang datang ke Cirebon untuk menyebarkan agama Islam.

Adiknya yang lain yaitu Sykeh Abdurrohman atau Pangeran Panjunan dan Syekh Abdurrohim atau Pangetan Kejaksan.

Syekh Datul Kahfi sendiri merupakan guru agama ibu Sunan Gunung Djati, yaitu Nyi Mas Rarasantang.

Sekretaris Disbudparpora Kabupaten Cirebon, R Chaidir Susilaningrat di kantornya, Jumat (12/7/2019) mengatakan saat berguru kepada beliau, Nyi Mas Rarasantang belum menikah atau masih gadis.

"Jadi, Syekh Datul Kahfi dan Nyai Mukena ini datang jauh sebelum ada Sunan Gunung Djati ke Cirebon," katanya.

Sebagai pengajar ilmu fikih di kalangan perempuan saat itu, Nyai Mukena memperkenalkan mukena melalui pendekatan perilaku dan budaya.

Dia mengajarkan terlebih dahulu bagaimana perempuan dalam Islam harus membersihkan diri setelah menstruasi maupun setelah melahirkan.