AirNav Indonesia mencatat sejumlah tahapan penting sebelum pesawat jatuh:
- 12.10 Wita – Pesawat lepas landas dari Long Bawan. Seharusnya melapor saat melewati Malinau pukul 12.24 Wita dan tiba di Tarakan pukul 13.15 Wita.
- 12.20 Wita – Tower Malinau menerima informasi bahwa pesawat lain menangkap sinyal darurat Emergency Locator Transmitter, ELT. Sinyal ini biasanya aktif otomatis saat pesawat mengalami benturan keras.
- 12.27 Wita – Pesawat lain kembali mengonfirmasi mendengar sinyal darurat tersebut.
- 12.30 Wita – Titik koordinat sinyal darurat terdeteksi di N 03 53 53 E 115 52 43.
- 12.50 Wita – Tim bandara Long Bawan bergerak menuju lokasi sekitar lima kilometer dari ujung landasan di balik gunung. Saksi mata melihat pesawat menukik tajam ke bawah.
- 13.15 Wita – Hingga waktu estimasi kedatangan, pesawat tidak pernah menghubungi Tarakan.
Penjelasan Resmi Pelita Air
Pj Corporate Secretary Pelita Air, Patria Rhamadonna, mengungkapkan pesawat tersebut merupakan armada charter Pelita Air yang melayani penerbangan kargo tanpa penumpang.
“Penerbangan tersebut merupakan layanan kargo pengangkut bahan bakar yang diawaki oleh satu orang pilot, tanpa awak kabin maupun penumpang,” kata Patria kepada kumparan.
Saat ini Pelita Air masih melakukan investigasi serta koordinasi dengan pihak terkait untuk memastikan penyebab jatuhnya pesawat.
“Informasi resmi dan perkembangan terbaru akan kami sampaikan secara berkala melalui kanal resmi Pelita Air,” ujarnya.
AirNav juga menyebutkan bahwa insiden terjadi saat cuaca cukup cerah dengan jarak pandang mencapai sembilan kilometer.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)
editor: nur_muhammad







