Harga Emas Kembali Meroket Setelah Sempat Anjlok Tajam, Pasar Tunggu Sinyal The Fed

WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Harga emas kembali menguat pada Rabu (18/2/2026) setelah sehari sebelumnya sempat jatuh tajam hingga menyentuh level terendah dalam sepekan.

Penguatan ini terjadi di tengah sikap wait and see pelaku pasar yang kini menantikan risalah rapat Federal Reserve (The Fed) Januari untuk membaca arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat.

Emas Spot Naik 1,1 Persen

Berdasarkan data perdagangan terbaru, emas spot tercatat naik 1,1 persen menjadi 4.929,69 dolar AS per ounce, atau setara sekitar Rp 83,18 juta per ounce pada pukul 04.14 GMT.

Pada perdagangan Selasa (17/2/2026), harga emas sempat turun lebih dari 2 persen, memicu kekhawatiran investor.

Sementara itu, emas berjangka Amerika Serikat untuk pengiriman April juga menguat 0,9 persen ke level 4.949,20 dolar AS per ounce, atau sekitar Rp 83,52 juta per ounce.

Analis Prediksi Emas Bergerak di Kisaran Lebar

Analis riset senior IndusInd Securities, Jigar Trivedi, menyebut harga emas masih berpotensi bergerak fluktuatif sepanjang tahun.

“Secara umum, 4.700 dolar AS hingga 5.100 dolar AS akan menjadi kisaran luas sepanjang tahun,” ujarnya.

Investor Fokus pada Risalah The Fed

Pelaku pasar saat ini menanti risalah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang dirilis hari ini. Dokumen tersebut menjadi petunjuk penting mengenai langkah The Fed terkait suku bunga.

Setelah itu, perhatian investor akan beralih ke laporan Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) Amerika Serikat Desember yang terbit pada Jumat. Data ini menjadi indikator utama bank sentral AS dalam menilai inflasi.

Berdasarkan FedWatch Tool CME Group, pasar kini memperkirakan The Fed mulai menurunkan suku bunga pada Juni 2026.

Suku Bunga Rendah Jadi Sentimen Positif untuk Emas

Emas dikenal sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga. Karena itu, logam mulia ini cenderung menguat saat suku bunga rendah, sebab biaya peluang memegang emas menjadi lebih kecil.