Investigasi itu juga memuat kesaksian warga Palestina yang mencari anggota keluarga mereka yang hilang akibat serangan Israel.
Yasmin Mahani mengatakan ia menyusuri reruntuhan Sekolah al-Tabin di Gaza City saat fajar pada 10 Agustus 2024 untuk mencari putranya, Saad, setelah serangan Israel terjadi.
“Saya masuk ke masjid dan mendapati diri saya menginjak daging dan darah,” ujar Mahani kepada Al Jazeera Arabic.
Yasmin menuturkan ia mencari di rumah sakit dan kamar jenazah selama berhari-hari, namun tidak menemukan jejak putranya.
“Kami tidak menemukan apa pun dari Saad. Bahkan tidak ada jenazah untuk dimakamkan. Itu yang paling berat,” katanya.
BACA JUGA: Live Streaming Arus Lalu Lintas Banjarmasin Jelang Haul Guru Zuhdi ke 6
Buatan Amerika
Investigasi ini juga mengidentifikasi jenis bom yang dijatuhkan di pemukiman padat Jalur Gaza.
Beberapa di antaranya adalah:
- GBU-39: Bom luncur presisi buatan AS yang dirancang menghancurkan isi bangunan tanpa meruntuhkan struktur luarnya. Gelombang panasnya merobek paru-paru dan membakar jaringan lunak.
- BLU-109: Bom penghancur bunker yang digunakan dalam serangan di al-Mawasi (zona yang diklaim aman), mengakibatkan 22 orang menguap seketika.
- MK-84 ‘Hammer’: Bom seberat 900 kilogram berisi tritonal yang mampu menghasilkan panas hingga 3.500 derajat Celsius.
Hukum Internasional Digugat
Kenyataan di lapangan ini memicu kritik keras dari pakar hukum internasional.
Diana Buttu, pengacara dan dosen di Georgetown University, menyebut ini sebagai ‘Genosida Global.’
Menurutnya, negara-negara pemasok senjata di Eropa dan Amerika Serikat memikul tanggung jawab moral dan hukum karena tetap mengirimkan amunisi yang jelas-jelas tidak bisa membedakan antara kombatan dan warga sipil.
Padahal, Mahkamah Internasional (ICJ) telah memerintahkan Israel untuk mencegah tindakan genosida sejak Januari 2024, namun bagi warga seperti Rafiq Badran yang kehilangan empat anaknya di kamp Bureij, hukum internasional terasa tawar dan tak berguna.
“Empat anak saya menguap begitu saja. Tidak ada satu potong pun yang tersisa untuk dimakamkan. Ke mana mereka pergi?” tanyanya pilu.
Tragedi Gaza kini bukan lagi soal statistik angka kematian, melainkan tentang hilangnya martabat manusia yang bahkan untuk sekadar dimakamkan secara layak pun, haknya dirampas oleh teknologi pemusnah massal. (wartabanjar.com/inilah.com)
Editor: Yayu






