Roskomnadzor menyatakan WhatsApp digunakan untuk:
Mengorganisasi aksi teror
Merekrut pelaku kejahatan
Melakukan penipuan terhadap warga
“WhatsApp terus melanggar hukum Rusia. Aplikasi ini digunakan untuk mengorganisasi dan melakukan aksi teror di wilayah negara,” ujar juru bicara Roskomnadzor, dikutip dari Straits Times.
Ribuan pengguna di Rusia mengeluhkan pembatasan akses, terutama saat momen Natal dan Tahun Baru.
Telegram Juga Kena Dampak
Sebelum WhatsApp, pemerintah Rusia lebih dulu membatasi akses Telegram dengan alasan serupa, yakni perlindungan terhadap kejahatan dan terorisme.
Roskomnadzor menyebut data pribadi pengguna tidak terlindungi dan tidak ada langkah efektif untuk menangkal penyalahgunaan layanan pesan.
Namun, pemerintah membuka peluang pelonggaran pembatasan jika Telegram dan Meta bersedia menyimpan data pengguna Rusia di dalam negeri sesuai regulasi.
Rusia Dorong Warga Pakai Aplikasi Lokal “Max”
Seiring pembatasan ini, pemerintah Rusia mendorong warga beralih ke aplikasi dalam negeri bernama Max, yang dirancang sebagai super-app mirip WeChat di China.
Sejak 2025, aplikasi Max diwajibkan terpasang secara bawaan pada perangkat baru yang dijual di Rusia. Pegawai negeri, guru, dan siswa juga diwajibkan menggunakan aplikasi tersebut.
CEO Telegram, Pavel Durov, menilai pemblokiran ini sebagai strategi untuk memaksa warga menggunakan aplikasi lokal demi kepentingan pengawasan dan sensor politik.
“Membatasi kebebasan warga tidak akan pernah menjadi jawaban yang tepat,” kata Durov.
