Bahlil Lahadalia Klaim Dirinya Menteri Antiimpor di Hadapan DPR RI
WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan dirinya adalah “menteri antiimpor” ketika rapat kerja bersama anggota Komisi XII DPR RI di Gedung DPR, Jakarta, Kamis (22/1/2026). Ia mengungkapkan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap impor energi merupakan bentuk kelemahan struktur produksi dalam negeri yang harus diubah secara bertahap.
Bahlil menjelaskan Indonesia masih membutuhkan impor bahan bakar minyak (BBM) tertentu seperti solar dan bensin karena produksi kilang domestik belum mencukupi kebutuhan nasional setiap tahunnya. Menurutnya kebijakan impor saat ini membuat negara tergantung pada pasokan dari luar negeri, sehingga ia menyatakan sikap tegas menolak model ketergantungan tersebut.
Dalam rapat itu, Bahlil memaparkan data kebutuhan konsumsi solar nasional sekitar 38 juta kiloliter per tahun sementara produksi domestik hanya mencapai 14–16 juta kiloliter sehingga impor masih diperlukan. Sebagai strategi jangka panjang, ia mengklaim bahwa pemerintah akan mengurangi ketergantungan impor melalui peningkatan produksi dalam negeri dan program campuran bahan bakar bioetanol.
Dia menyebut proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan dapat menambah kapasitas produksi sekitar 5,8 juta kiloliter per tahun, menurunkan kebutuhan impor bensin menjadi sekitar 19 juta kiloliter pada 2026 serta mendukung efisiensi pasokan energi nasional.
Bahlil juga menargetkan penghentian impor jenis BBM non-subsidi seperti bensin RON 92, RON 95, RON 98 dan avtur pada 2027 sebagai bagian dari usaha mencapai kemandirian energi nasional. Pernyataan itu disampaikan untuk menegaskan komitmen pemerintah mengurangi ketergantungan energi impor secara bertahap. (Wartabanjar.com/berbagai sumber)
Editor: Andi Akbar