WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Kabar duka menyelimuti Kalimantan Selatan. Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip (Dispersip) Provinsi Kalimantan Selatan, Hj. Nurliani Dardie, M.AP, atau yang akrab disapa Bunda Nunung, berpulang ke rahmatullah.

Kabar kepergian sosok yang dikenal ramah, bersahaja, dan penuh dedikasi ini pertama kali disampaikan oleh mantan Gubernur Kalsel, H. Sahbirin Noor atau Paman Birin, melalui akun Instagram pribadinya, @pamanbirin888.

“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, telah berpulang ke Rahmatullah, sahabat ulun NURLIANI DARDIE binti H. DARDIE atau yang sering kita kenal BUNDA NUNUNG pada hari Jumat, 16 Januari 2026, pukul 05.37 Wita,” tulis Paman Birin.

Dalam unggahan tersebut, Paman Birin juga menyampaikan doa tulus untuk keluarga yang ditinggalkan agar diberi ketabahan, serta memohonkan ampunan dan surga terbaik bagi almarhumah.

“Semoga dosa-dosa almarhumah diampuni, diterima segala amal ibadahnya, dan ditempatkan dalam surga-Nya yang penuh keberkahan. Aamiin.”

Sosok Ibu bagi Dunia Literasi Banua

Bunda Nunung bukan hanya pejabat birokrasi. Ia adalah sosok ibu bagi dunia literasi di Kalimantan Selatan. Sebagai Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kalsel, ia dikenal aktif mendorong minat baca, penguatan arsip daerah, serta pelayanan publik yang humanis.

Sebelum bertugas di tingkat provinsi, almarhumah juga pernah dipercaya menjabat sebagai Penjabat Sekretaris Daerah Kota Banjarbaru. Karier panjangnya di lingkungan pemerintahan menjadikannya figur yang dihormati lintas generasi.

Kepergiannya meninggalkan ruang kosong, bukan hanya di kantor, tetapi juga di hati banyak orang yang pernah bekerja dan belajar bersamanya.

Tangis Netizen, Doa Mengalir Tanpa Henti

Unggahan Paman Birin langsung dibanjiri ribuan ucapan duka dari masyarakat Banua. Kalimat-kalimat doa memenuhi kolom komentar, menjadi saksi betapa besar cinta publik kepada Bunda Nunung.

“Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, semoga beliau mendapat rahmat di sisi Allah SWT.”
“Moga almarhumah husnul khotimah, diterima segala amal baiknya.”
“Kami turut berduka, Banua kehilangan sosok perempuan hebat.”

Ada doa, ada air mata, dan ada rasa kehilangan yang tak terucap.