Kini, Masjid Raya Sabilal Muhtadin berdiri sebagai simbol perubahan besar, dari tanah yang dulu dikuasai penjajah menjadi pusat ibadah, dakwah, dan pelayanan umat.

“Inilah bukti nyata bahwa lahan bekas penjajahan kini menjadi pusat syiar Islam yang damai dan menebar manfaat,” tutur Faturrahman.

Seiring waktu, peran masjid ini terus berkembang. Wakil Sekretaris Pengurus Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Ustadz Maulani, menegaskan bahwa sejak awal, masjid ini memang diniatkan sebagai pusat peradaban Islam, bukan hanya tempat ibadah ritual.

“Sebagaimana Masjid Nabawi dibangun Rasulullah SAW sebagai pusat peradaban di Madinah, Sabilal Muhtadin dihadirkan sebagai ikon religius umat Islam Kalimantan Selatan,” jelasnya.

Masjid ini juga menjalankan fungsi sosial yang kuat. Di kawasan masjid terdapat berbagai lembaga keagamaan seperti MUI, Baznas, LPTQ, asosiasi mualaf, hingga unit pelayanan zakat dan sosial.

“Kami melayani penyelenggaraan jenazah bagi masyarakat tidak mampu secara gratis, lengkap dengan ambulans dan perlengkapannya. Masjid harus hadir sebagai pelayan umat,” tegas Ustadz Maulani.

Selain itu, Masjid Raya Sabilal Muhtadin dikenal sebagai pusat dakwah dan pengajian. Sejumlah ulama besar Banjar hingga tokoh nasional dan internasional rutin mengisi kajian. Setiap malam Jumat dan hari besar Islam, ribuan jamaah memadati masjid ini.

Bagi masyarakat Kalimantan Selatan, Masjid Raya Sabilal Muhtadin bukan hanya bangunan bersejarah, melainkan denyut kehidupan keislaman Banua, tempat doa, ilmu, dan pengabdian terus mengalir lintas generasi.(Wartabanjar.com/Ramadan)

editor: nur_muhammad