Dari Benteng Kolonial ke Mercusuar Iman, Masjid Raya Sabilal Muhtadin Saksi Kebangkitan Islam di Jantung Banjarmasin

WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN – Masjid Raya Sabilal Muhtadin bukan sekadar tempat ibadah. Bangunan megah yang berdiri di pusat Kota Banjarmasin ini menyimpan jejak sejarah panjang transformasi peradaban, dari simbol kekuasaan penjajah hingga menjadi pusat pelayanan dan syiar Islam di Kalimantan Selatan.

Dengan lima menara yang menjulang—satu di antaranya berdiri sebagai menara utama—Masjid Raya Sabilal Muhtadin telah lama menjadi ikon religius dan kebanggaan masyarakat Banua. Arsitekturnya diperkaya ornamen kaligrafi tembaga dengan berbagai gaya khat Arab, menegaskan identitas Islam yang kuat sekaligus estetika yang khas.

Tak banyak yang mengetahui, lahan tempat masjid ini berdiri dulunya merupakan benteng pertahanan kolonial Belanda bernama Fort Tatas atau Port Pantatas. Benteng tersebut dibangun secara permanen pada 1 Oktober 1709 dan menjadi pusat kendali pemerintahan kolonial Belanda untuk wilayah Kalimantan Tengah, Selatan, hingga Tenggara.

Kepala Bidang Pembinaan Pemuda dan Wanita Badan Pengelola Masjid Raya Sabilal Muhtadin, Faturrahman, menjelaskan bahwa Benteng Tatas bukan hanya berfungsi sebagai pertahanan militer, tetapi juga pusat administrasi kolonial.

“Benteng itu dikelilingi kanal Sungai Tatas, membentuk pulau kecil di tengah kota. Dari sanalah Belanda mengendalikan wilayah Kalimantan,” ungkapnya.

Setelah Indonesia merdeka, benteng tersebut ditinggalkan dan lahannya terbengkalai. Para ulama dan tokoh daerah kemudian menggagas alih fungsi tanah bekas penjajahan menjadi pusat kebangkitan Islam, sebuah simbol perlawanan kultural dan spiritual terhadap masa lalu kolonial.

Gagasan pembangunan masjid raya muncul sejak 1964 atas prakarsa Gubernur H. Abrani Sulaiman bersama Pangdam X Lambung Mangkurat Amir Mahmud. Namun situasi politik nasional kala itu membuat rencana tersebut tertunda, hingga akhirnya direalisasikan pada 10 November 1974 di masa kepemimpinan Gubernur Soebarjo.

Masjid Raya Sabilal Muhtadin pertama kali digunakan untuk Salat Iduladha pada 31 Oktober 1979. Dua tahun kemudian, tepatnya 9 Februari 1981, masjid ini diresmikan langsung oleh Presiden Soeharto.

Nama Sabilal Muhtadin dipilih sebagai penghormatan kepada ulama besar Banjar, Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari atau Datu Kalampayan, penulis kitab fikih monumental Sabilal Muhtadin yang menjadi rujukan umat Islam Nusantara.