Islandia Susul Belanda Hingga Irlandia Boikot Lomba Menyanyi Eurovision karena Partisipasi Israel
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN- Negara yang memboikot kontes menyanyi Eurovision bertambah.
Kali ini adalah Islandia, menyusul Spanyol, Irlandia, Slovenia dan Belanda.
Pemboikotan ini karena ada partisipasi Israel, seiring dengan kemarahan dan kecaman banyak masyarakat dunia sekarang ini terhadap genosida negara Zionis itu terhadap Palestina.
Mengutip berbagai sumber, Jumat (12/12/2025), Islandia telah mengumumkan bahwa mereka tidak akan berpartisipasi dalam Kontes Lagu Eurovision 2026, seperti yang diumumkan oleh stasiun penyiaran publiknya, RUV, pada Rabu (10/12/2025), setelah Uni Penyiaran Eropa (EBU) mengonfirmasi kelayakan Israel disetujui melalui voting pada 4 Desember 2025 lalu untuk berpartisipasi dalam kompetisi tersebut tahun depan.
Keputusan EBU mengizinkan Israel berpartisipasi dalam acara yang diselenggarakan di Wina, Austria ini telah memicu Spanyol, Belanda, Irlandia, dan Slovenia menarik diri sebagai protes, dengan mengutip tindakan Israel dalam perang di Gaza.
Islandia termasuk di antara negara-negara yang mendesak dilakukannya pemungutan suara mengenai partisipasi Israel, namun EBU menolak melakukannya, dan malah memperkenalkan aturan baru yang bertujuan mencegah pemerintah memengaruhi kontes.
Gelombang protes terhadap Israel sebagai imbas dari aksi genosida Zionis di Palestina makin kencang, bahkan kini merambah di berbagai bidang, di antaranya di hiburan.
Para penentang keikutsertaan Israel ini mengkritik keras operasi militer di Gaza yang telah menewaskan lebih dari 70.000 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, serta menghancurkan infrastruktur sipil seperti rumah sakit, sekolah, tempat ibadah, dan dapur umum.
Sejumlah pakar, termasuk yang ditunjuk badan PBB, menilai bahwa serangan Israel tersebut melampaui ambang batas tindakan genosida.
Edisi ke-70 Eurovision ini dijadwalkan berlangsung di Wina, Austria, pada Mei 2026 mendatang, mempertemukan puluhan negara untuk memperebutkan gelar musik tahunan benua Eropa.
Meski berupaya menempatkan musik pop di atas politik, ajang ini berkali-kali terseret dinamika global seperti Rusia dikeluarkan pada 2022 setelah invasi ke Ukraina.