“Mengingat potensi bahaya lanjutan, jalur pendakian dan area wisata di sekitar Semeru sebaiknya memang ditutup sementara secara disiplin,” tandasnya.
Sebagai informasi, sebanyak 178 orang pendaki sempat terjebak di Ranu Kumbolo saat Semeru erupsi. Pendakian memang masih dibuka pada Rabu pagi karena radius aman saat itu masih berada di kisaran 5-8 kilometer.
Para pendaki itu juga tidak dapat langsung turun karena jalur licin, gelap, dan rawan longsor sehingga petugas memutuskan menahan seluruh pendaki untuk bermalam demi menghindari risiko besar selama perjalanan turun.
Pasca erupsi Semeru, semua pendaki yang sempat terjebak di Ranu Kumbolo pun dipastikan berada dalam kondisi aman dan tidak terkena awan panas karena arah guguran awan panas Semeru mengarah ke Gladak Perak. Sehingga Ranu Kumbolo relatif aman tanpa abu vulkanik.
Saat ini, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) telah menutup semua aktivitas pendakian termasuk jalur Ranu Kumbolo sebagai langkah mitigasi setelah PVMBG menaikkan status Semeru menjadi Level IV atau Awas.
Hal ini dikarenakan potensi bahaya erupsi masih sangat tinggi dan zona sektoral 20 km arah selatan-tenggara dinyatakan berisiko besar.
Puan berharap agar keputusan ini dipatuhi semua pihak demi mencegah korban jiwa.
“Semeru adalah anugerah alam yang indah, namun keselamatan manusia tetap yang utama,” ujar Puan.
Di sisi lain, Puan menekankan pentingnya perlindungan bagi warga di pengungsian.







