WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Harga emas dunia tengah melemah, namun para analis justru menyebut kondisi ini sebagai peluang emas—secara harfiah—untuk investor melakukan akumulasi. Penurunan harga yang terjadi saat ini dinilai sebagai fase koreksi wajar setelah tren kenaikan panjang dalam beberapa bulan terakhir.
Menurut Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji, koreksi harga emas bukanlah tanda bahaya, melainkan momen sehat bagi pasar untuk menyesuaikan diri.
“Setelah The Fed menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada Oktober, ekspektasi pasar terhadap penurunan berikutnya bergeser ke Januari tahun depan akibat tekanan inflasi AS yang masih tinggi,” ujar Nafan, Jumat (31/10/2025).
Ia menjelaskan, tingkat inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang naik ke 3 persen menjadi sinyal bahwa The Fed masih akan berhati-hati dalam melonggarkan kebijakan moneternya.
“Dengan inflasi masih di atas target 2 persen, The Fed cenderung bersikap prudent,” tegasnya.
Dolar Menguat, Emas Tertekan
Selain faktor suku bunga, penguatan dolar AS turut menekan harga emas. Ketika dolar menguat, harga emas menjadi lebih mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain, sehingga permintaan global terhadap logam mulia menurun.
Kondisi ini diperparah dengan prospek ekonomi AS yang relatif stabil, sehingga minat terhadap aset safe haven seperti emas ikut berkurang.







