Tiga Faktor Pemicu Hujan Ekstrem
Menurut BMKG, peningkatan drastis curah hujan ini disebabkan oleh sedikitnya tiga faktor utama yang bekerja secara simultan, yakni pengaruh global, aktivitas regional, dan faktor lokal.
- Pengaruh Global: Dipole Mode Index (DMI) Negatif Indeks DMI tercatat menunjukkan nilai negatif yang signifikan, yaitu −1,27. Kondisi ini mengindikasikan adanya suplai uap air yang masif dari Samudra Hindia, mengalir deras menuju wilayah Indonesia bagian barat.
- Aktivitas Regional: MJO, Rossby, dan Kelvin Kompak Pada skala regional, fenomena atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Rossby Ekuator, dan Gelombang Kelvin terpantau aktif secara bersamaan melewati wilayah Indonesia. MJO khususnya, berada di fase 4 atau wilayah Maritime Continent, yang memicu pertumbuhan awan hujan secara intens di Sumatera bagian barat, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi.
- Faktor Lokal: Sirkulasi Siklonik dan Konvergensi Kondisi atmosfer di berbagai wilayah menjadi relatif labil. BMKG mencatat adanya sirkulasi siklonik di Laut Cina Selatan, perairan selatan Kalimantan Tengah, dan Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya. Sirkulasi ini menciptakan area perlambatan angin (konvergensi) dan pertemuan angin (konfluensi) yang memanjang. Zona konvergensi ini terbentang mulai dari Laut Natuna Utara hingga Laut Jawa, Kalimantan, Maluku Utara, hingga Papua bagian barat. Kondisi ini memperbesar peluang terbentuknya awan hujan badai. (Wartabanjar.com/inilah.com)
Editor Restu







