Sawah Terjebak Lumpur di Handil Kyai, Akademisi ULM: Jalan Pertanian Layak adalah Investasi Masa Depan Petani
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Jalan pertanian ibarat urat nadi bagi kehidupan petani. Kondisi akses yang layak membuat mereka bisa bekerja lebih tenang, lancar mengangkut hasil panen, sekaligus menekan biaya operasional.
Namun, kenyataan pahit harus dirasakan petani di Handil Kyai, Kecamatan Cempaka, Banjarbaru. Setiap kali musim hujan, jalan tanah yang menjadi akses utama menuju sawah berubah menjadi lautan lumpur. Truk dan motor kesulitan melintas, hingga gabah pun sering terjebak di sawah.
Dampaknya fatal: biaya angkut membengkak, bahkan lebih tinggi dari harga jual panen. Situasi ini jelas merugikan petani dan berimbas pada masyarakat luas, karena harga pangan ikut merangkak naik.
Ketua Prodi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Lambung Mangkurat (ULM) sekaligus pakar tata kota, Dr. Eng. Akbar Rahman, menegaskan perlunya perhatian serius terhadap pembangunan infrastruktur pertanian.
BACA JUGA:DIHUJAT! Gegara Patung Iron Man Dikira Jarahan di Rumah Sahroni, Sekarang Eko Purnomo Banjir Orderan
“Jika jalan pertanian terhubung langsung ke jalan utama dengan drainase baik sehingga tidak tergenang air, petani bisa mengangkut panen kapan saja tanpa takut terhambat hujan,” jelasnya, Minggu (7/9/2025) malam.
Menurutnya, solusi perbaikan tidak selalu mahal. Untuk jangka pendek, pengerasan jalan dengan sirtu atau batu pecah bisa mengurangi lumpur. Sementara itu, drainase sederhana di sisi jalan mencegah air tergenang.
“Bila anggaran mencukupi, penggunaan paving block atau beton tipis bisa jadi investasi jangka panjang yang awet serta bisa dikerjakan oleh tenaga lokal,” tambahnya.
Dr. Akbar juga menekankan pentingnya perawatan rutin dengan melibatkan kelompok tani dan pemerintah desa agar jalan tetap terjaga.
Ia berharap pemerintah daerah dan DPRD memberi perhatian serius, menjadikan pembangunan jalan pertanian sebagai program prioritas setara pembangunan jalan perkotaan.
“Alokasi anggaran bisa berasal dari APBD, dana desa, hingga dukungan CSR perusahaan sekitar. Kolaborasi ini jauh lebih efektif daripada membiarkan petani menanggung kerugian sendirian,” ujarnya.
Menurut Dr. Akbar, memperbaiki jalan pertanian bukan sekadar membuka akses, melainkan investasi masa depan.
“Dengan jalan yang layak, biaya produksi pangan bisa ditekan, petani semakin sejahtera, dan masyarakat mendapat harga pangan yang terjangkau,” tegasnya.
Ia pun menutup dengan seruan: “Kini saatnya Banjarbaru menunjukkan komitmen nyata, memberi akses infrastruktur layak bagi petani demi mendorong ekonomi inklusif.”(wartabanjar.com/IKhsan)
editor: nur muhammad