Meski besarannya mengkhawatirkan, OJK menilai kualitas pembiayaan masih terjaga, dengan tingkat risiko kredit macet (TWP90) sebesar 2,75 persen, turun tipis dari Juni yang mencapai 2,85 persen.
Berbeda dengan pinjol, layanan Buy Now Pay Later (BNPL) alias paylater justru mencatat pertumbuhan jauh lebih tinggi. Per Juli 2025, outstanding paylater tembus Rp8,81 triliun, tumbuh 56,74 persen yoy, naik tipis dari bulan sebelumnya 55,75 persen yoy.
Tak hanya itu, rasio pembiayaan bermasalah (NPF) gross pada paylater juga membaik, turun dari 3,26 persen (Juni) menjadi 2,95 persen (Juli).
Meski paylater tumbuh pesat, secara nominal utang di pinjol masih jauh lebih besar, hampir 10 kali lipat dibanding paylater. Kondisi ini menunjukkan masyarakat masih lebih memilih pinjol sebagai jalan pintas kebutuhan dana, meski risikonya tinggi.
Fenomena ini pun menjadi perhatian serius regulator, mengingat utang digital terus meningkat dan berpotensi menjerat masyarakat jika tidak diimbangi dengan literasi keuangan yang memadai.(Wartabanjar.com/berbagai sumber)
editor: nur muhammad







