WARTABANJAR.COM – Penutupan fitur live TikTok di Indonesia sejak akhir Agustus menimbulkan efek berlapis. Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan menegaskan, perdagangan daring tak terganggu. TikTok dianggap bukan e-commerce murni, sehingga transaksi online diyakini tetap berjalan normal.
Namun, narasi berbeda datang dari lapangan. Para pelaku UMKM di Bandung Barat menyebut usaha mereka ikut mati. Bagi mereka, live selling bukan sekadar kanal promosi, tetapi satu-satunya jalan untuk menjangkau pembeli. Ketika fitur itu dimatikan, omzet langsung turun, bahkan ada yang tak lagi mampu menutup biaya operasional.
Kontras ini memperlihatkan kesenjangan pandangan. Pemerintah berbicara dalam kerangka besar, soal makro ekonomi digital yang tetap stabil. Sementara UMKM bicara soal realitas harian seperti bagaimana membayar pegawai, membiayai sekolah anak, dan mengisi dapur rumah.
Asosiasi e-commerce memang mengingatkan pentingnya diversifikasi kanal. Namun kita tak bisa menutup mata bahwa mayoritas UMKM masih rapuh. Mereka baru saja menemukan panggung di TikTok Live, lalu tiba-tiba kehilangan ruang yang memberi harapan.
Kasus ini harus jadi pelajaran. Regulasi dan keamanan tetap penting, tapi jangan sampai keputusan sepihak justru memukul pelaku usaha kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi.
TikTok Live boleh mati, tapi semangat UMKM tak boleh padam. Justru dari keterbatasan ini, kita belajar bahwa ekosistem digital harus dibangun lebih adil, lebih kokoh, dan benar-benar berpihak pada mereka yang menopang ekonomi dari bawah.(Wartabanjar.com/vri/berbagai sumber)

