WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Temuan mengejutkan dari penyelidikan media internasional menunjukkan bahwa pembuatan food tray untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproduksi di Tiongkok diduga mencampur tray stainless steel tipe 304 (food-grade) dengan yang 201 (non–food-grade). Lebih menghebohkan, pelumas produksi disebut mengandung minyak lemak babi (lard oil) dalam proses fabrikasinya. Food tray adalah nampan atau wadah atau alas datar, berbentuk persegi atau persegi panjang, yang berfungsi untuk membawa dan menyajikan makanan serta minuman yang seharusnya rapi dan higienis Investigasi Media: Tim investigasi dari Indonesia Business Post menyusuri pusat industri tray di Chaoshan, Guangdong (Tiongkok) — yang memasok ribuan tray ke program MBG — dan menemukan indikasi kuat bahwa untuk menekan biaya, produsen mencampur tray 304 food-grade dengan jenis 201 non-food-grade. Bahkan ditemukan bahwa proses manufaktur menggunakan minyak babi sebagai pelumas bersama dengan minyak mineral dan aditif lain. Hal ini menimbulkan dugaan serius soal kehalalan tray yang digunakan di sekolah. Total permintaan nasional MBG mencapai 82 juta unit, dan sekitar 14 juta tray telah masuk pasar, sebagian besar melalui impor dari Tiongkok. Sorotan dari DPR & YLKI: DPR mengecam lemahnya pengawasan atas standar keamanan tray impor serta mendesak BGN dan BPOM merumuskan standar teknis minimum, termasuk larangan tray berlapis palsu atau mencurigakan. Pelaksanaan program diharapkan segera mendahulukan produk lokal bersertifikasi food-grade. YLKI juga menyuarakan kekhawatiran atas praktik pemalsuan tray, khususnya penggunaan material 201 yang lebih murah dan rentan karatan, namun dicantumkan sebagai 304. Mereka mendesak tindakan tegas terhadap pemalsu dan impor tidak sesuai standar. BACA JUGA:SDN Basirih 10 Dibiarkan & Nyaris Terlupakan! Wali Kota Yamin Perintahkan Dinas PUPR Bertindak Menteri Agama Datar Sementara itu Menteri Agama Nasaruddin Umar menanggapi dugaan temuan nampan tersebut mengatakan segala temuan akan menjadi masukan bagi pengelola MBG. Menurut Nasaruddin, Pemerintah akan memperbaiki MBG jika terbukti ada temuan mengenai kehalalan. "Ya kita akan temukan itu, masukan-masukan itu silakan serakan ke pengelolanya ya. Tapi secara formal, kita mau terima jadi dan beres semuanya. Insyaallah kalau memang itu ada temuan itu segera kita akan perbaiki," kata Nasaruddin, Selasa (26/8/2025). Meski begitu, Nasaruddin mengatakan Pemerintah berupaya memastikan kehalalan dari program MBG. Seluruh MBG yang disalurkan di seluruh Indonesia, kata Nasaruddin, sudah dijamin kehalalannya. "Kami menekankan aspek kehalalan semua makanan. Jadi insyaallah seluruh makanan yang dibagi di seluruh Indonesia itu terjamin kehalalannya," ucapnya. Pihak pengelola makanan MBG, kata Nasaruddin, telah diingatkan oleh Pemerintah untuk menyajikan makanan yang halal. "Kami mengikuti perkembangan dan insyaallah pimpinan di perusahaan-perusahaan itu juga sudah diwanti-wanti ya untuk memberikan makanan yang halal, yang bergizi terhadap anak-anak kita," pungkasnya. Perbandingan Food Tray MBG: 304 vs 201 & Risiko Kesehatan: Tray Stainless 304 (Food Grade): - Tahan karat & aman untuk makanan - Tidak mudah bereaksi dengan zat asam/garam - Umur pakai lebih panjang - Sesuai standar internasional food-grade Tray Stainless 201 (Non Food Grade): - Rentan karatan & luntur logam berat - Daya tahan rendah terhadap asam/garam - Bisa melepaskan kandungan berbahaya ke makanan - Tidak sesuai standar keamanan pangan Isu Tambahan dari Investigasi - Proses produksi di pabrik Tiongkok diduga memakai minyak lemak babi (lard oil) sebagai pelumas. - Menimbulkan pertanyaan soal kehalalan tray MBG. - Diduga ada pemalsuan label 304 padahal material sebenarnya 201. Risiko Utama bagi Anak Sekolah - Potensi keracunan logam berat - Kontaminasi makanan oleh bahan berbahaya - Ketidakjelasan status halal Solusi Mendesak - Wajibkan produk lokal food-grade 304 bersertifikasi - Pengawasan ketat BPOM & BGN atas impor tray - Transparansi bahan & proses produksi.(Wartabanjar.com/berbagai sumber) editor: nur muhammad