WARTABANJAR.COM, MARTAPURA- Di balik nama "Masjid Pancasila" yang melekat di tengah masyarakat Sekumpul, tersimpan sejarah panjang dan kaya makna yang menautkan akar spiritual umat Islam dengan nilai-nilai kebangsaan Indonesia. ‎ ‎Masjid ini bukan hanya saksi perjalanan religius masyarakat, tetapi juga menjadi simbol nyata bahwa cinta Tanah Air dan iman kepada Tuhan bisa berjalan seiring. ‎ ‎Sejarawan Banua sekaligus akademisi dari UIN Antasari, Mursalin, mengungkapkan Masjid Syiarus Shalihin ini awalnya dibangun pada 1968 oleh masyarakat lokal yang merindukan tempat ibadah yang layak dan representatif. ‎ ‎"Dikenal luas dengan sebutan Masjid Sekumpul, tempat ini sejak awal menjadi pusat aktivitas keagamaan mulai dari salat berjemaah, pengajian, TPA, hingga berbagai kegiatan selama bulan Ramadhan," ucapnya, saat diwawancara, Jumat (15/8/2025) pagi. ‎ ‎Namun sejarah masjid ini memasuki babak baru pada 2002, ketika nama "Masjid Sekumpul" resmi diubah menjadi "Masjid Pancasila." ‎ ‎Perubahan nama ini bukan hanya keputusan administratif, tetapi refleksi komitmen masyarakat untuk menanamkan nilai-nilai Pancasila khususnya Sila Pertama, "Ketuhanan Yang Maha Esa," ke dalam kehidupan spiritual mereka. ‎ ‎"Nama Pancasila dipilih bukan hanya karena simbolisme ideologi negara, tapi juga karena semangat untuk memperkuat persatuan umat Islam di tengah keberagaman bangsa ini," ujar Mursalin. ‎ ‎Namun, transformasi identitas masjid tidak berhenti di sana. Pada 2019, melalui rapat internal pengurus dan tokoh masyarakat, nama resmi masjid tersebut dikembalikan menjadi Masjid Syiarus Shalihin. ‎ ‎"Kendati demikian hingga kini masyarakat masih akrab menyebutnya dengan nama Masjid Pancasila, karena nama tersebut telah terpatri kuat dalam memori kolektif warga," tambahnya. ‎ ‎Namun, penting untuk diluruskan bahwa Presiden Soeharto tidak membangun Masjid Pancasila di Martapura. Kehadiran nama "Pancasila" di masjid ini tidak berkaitan langsung dengan Yayasan Amalbakti Muslim Pancasila (YAMP) yang didirikan oleh Soeharto pada tahun 1982. ‎ ‎"YAMP sendiri memang telah membangun 999 masjid di seluruh Indonesia hingga 2009, lengkap dengan desain arsitektur simbolis segi lima dan tiga cungkup yang melambangkan sila-sila Pancasila dan filosofi kehidupan," beber Mursalin. BACA JUGA: VIDEO - Nadeen Ayoub Catat Sejarah Jadi Wakil Pertama Palestina di Miss Universe 2025 ‎ ‎Berbeda dengan masjid-masjid YAMP yang dibangun oleh negara, Masjid Pancasila di Sekumpul lahir dari inisiatif murni masyarakat. Perubahan namanya menjadi “Pancasila” merupakan bentuk kesadaran spiritual masyarakat lokal. ‎ ‎"Untuk memadukan nilai religius dengan semangat kebangsaan menjadikan masjid ini tidak hanya tempat ibadah, tetapi juga simbol integrasi antara agama dan negara," lanjutnya. ‎ ‎Kini, lebih dari lima dekade sejak didirikan, masjid ini tetap menjadi pusat denyut spiritual masyarakat Martapura. ‎ ‎"Dalam setiap lantunan doa dan shalat yang dikumandangkan, terselip harapan akan kejayaan bangsa yang berdasarkan Pancasila mengakar pada iman, dan menjulang dalam persatuan," pungkas sejarawan Banua tersebut. (wartabanjar.com/IKhsan) Editor: Yayu