WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Skandal gender yang menimpa timnas voli putri U-21 Vietnam di Kejuaraan Dunia 2025 memicu sorotan publik internasional. Dua pemain Vietnam, Dang Thi Hong dan Phuong Quynh, dinyatakan berjenis kelamin pria dan langsung didiskualifikasi oleh Federasi Bola Voli Internasional (FIVB). Kasus ini membuat banyak pihak bertanya: bagaimana sebenarnya regulasi FIVB mengatur soal pelanggaran identitas gender? Menurut dokumen resmi FIVB, Pasal 13.5.2 Peraturan Acara dan Pasal 14.4 Peraturan Disiplin menjadi landasan utama dalam kasus ini. Aturan tersebut menegaskan bahwa pemain yang tidak memenuhi persyaratan kelamin sesuai kategori kompetisi akan langsung dilarang bertanding, dan seluruh pertandingan yang melibatkan mereka otomatis dibatalkan. FIVB juga memberi wewenang penuh kepada Sub-Komite Panel Disiplin untuk melakukan investigasi cepat, memeriksa data medis, hingga memutuskan sanksi. Hukuman bisa berupa diskualifikasi individu, pembatalan hasil pertandingan, bahkan larangan berkompetisi untuk periode tertentu. Dalam kasus Vietnam, proses investigasi berjalan kilat. Begitu bukti identitas gender terkonfirmasi, keputusan diskualifikasi dijatuhkan tanpa menunggu akhir turnamen. “Langkah ini diambil untuk menjaga integritas olahraga dan memastikan kesetaraan bagi seluruh peserta,” tulis FIVB dalam pernyataan resminya. Skandal ini kini menjadi pelajaran besar bagi semua federasi nasional untuk melakukan verifikasi ketat sebelum mengirimkan atlet ke ajang internasional. Dengan aturan yang jelas, FIVB berharap tak ada lagi kasus serupa yang mencoreng kompetisi dunia. (Wartabanjar.com/berbagai sumber) Editor: Andi Akbar